14 November 2008

Maninjau: Kampung Halaman Buya Hamka




Ketika kami --The Backpackers--berkunjung ke Maninjau, setelah menikmati panorama indah ketika menuruni Kelok 44 dan sampai ke tepi danau, kami meneruskan perjalanan ke kampung halaman Buya Hamka (tentang sang legenda akan saya tulis khusus). Asal sang ulama dan pujangga besar itu adalah Kampung Molek, Nagari Batang, Kecamatan Tanjung Raya yang berjarak kurang lebih 15 Km dari ujung bawah Kelok 44. Menyusuri jalan aspal kecil di sisi kiri danau ke arah Barat, kami melalui banyak kampung dan lahan pertanian dengan suasana perdesaan yang cukup maju.



Rumah-rumah banyak yang bagus dan penduduk sepanjang jalan itu nampaknya memanfaatkan lahan dan potensi Danau Maninjau. Sawah dan ladang yang subur dikombinasikan dengan usaha perikanan menjadikan suasana di perkampungan sepanjang danau itu sungguh unik. Pepohonan, rumah, dan masjid yang berada di pinggir danau membuat pemandangan yang indah dan spesifik sehingga saat ini telah mengundang menculnya beberapa homestay. Di lingkungan inilah Buya Hamka lahir dan melalui masa kecilnya.

Sampai di Kampung Molek kami dengan mudah menemukan rumah dimana Hamka lahir karena sudah dijadikan museum. Rumah itu terletak dikaki bukit sebelah kiri jalan menghadap ke arah danau. Selain rumah itu, dalam halaman yang sama juga terdapat beberapa bangunan lain yang berkaitan dengan keluarga besar Hamka yang sekarang juga sudah dijadikan sebagai bagian dari museum. Bangunan-bangunan dan lingkungannya sudah dipugar dengan asri dan artistik ala rumah adat "bagonjong" Minangkabau.
Dibayangi oleh kebesaran Buya Hamka, kami rasanya tidak sabar untuk masuk ke dalam museum itu. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit akhirnya petugas pintu museum itu datang dan membukakan kami pintu. Sebagaimana lazimnya di kampung, rumah yang berkaki itu tidak terlalu besar dengan beberapa kamar dan lebih didominasi oleh ruang bersama. Sudah menjadi tradisi di Minangkabau bahwa kamar hanya untuk orangtua dan anak gadis sedangkan para bujang sudah berkumpul dan mondok di surau atau masjid. Kamar-kamar itu masih didandani dengan perabot dan katil berkelambu layaknya masih dihuni kakek dan orangtua Buya Hamka.

Barang-barang peninggalan dan karya tulis Hamka dipamerkan di ruang bersama itu. Ada foto-foto lama dan reproduksi, tulisan tentang aktifitas Buya Hamka, barang-barang keperluan pribadi, dan karyatulis Buya Hamka. Museum dan isinya terlihat dibangun dan dipelihara dengan serius , meskipun saat ini bukan dikelola pemerintah tapi oleh keluarga. Para keluarga sang Buya, selain mengelola kompleks museum itu juga menyediakan cendera mata dan buku-buku karya Buya Hamka di sebuah rumah di depan museum.

Masalah pengelolaan ini nampaknya bisa mengancam keberadaan museum ini. Museum Hamka ini tentu seyogyanya dapat memberikan pelayanan yang maksimal dan secara teratur mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengappresiasi karya dan pemikiran Buya Hamka. Tumpuan kepada pengunjung secara apa adanya tentu akan berdampak resiprokal pada penampilan museum ini dan pembiayaan untuk operasional dan pemeliharaannya. Mudah-mudahan didapat titik temu antara pemerintah dan keluarga sehingga museum ini tidak jadi point of interest dengan tampilan sekenanya tapi jadi asset sejarah dan intelektual di Sumatera Barat khususnya, Indonesia umumnya. Semoga Buya Hamka tetap mendapatkan pahala dari pemikiran dan karya yang ditinggalkannya.

(Sumber 2 foto: travel.webshots.com/photo/2748533390027844447..., http://www.tripadvisor.com/LocationPhotos-g297726-,%20Pahttp://www.tripadvisor.com/LocationPhotos-g297726-Padang_Sumatra.htmlhttp://www.tripadvisor.com/LocationPhotos-g297726-Padang_Sumatra.html)

10 November 2008

Hari Pahlawan: Bisa Merinding

Senin 10 Nopember 2008 adalah Hari Pahlawan. Instansi-instansi pemerintah melakukan upacara bendera yang diikuti dengan acara Ziarah Nasional ke taman makam pahlawan (TMP). Setiap kali, ziarah TMP memberikan suasana khas.

Tidak seperti pemakaman umum lainnya yang penuh rumput dan semak, TMP yang layoutnya teratur senantiasa terpelihara kebersihannya. Lingkungan TMP layaknya juga seperti taman yang dihiasi dengan tanaman dan pepohonan secara rapi dan terawat. Dalam keindahan itu, deretan nisan makam para pahlawan yang demikian banyak itu menegakkan bulu roma.

Meski mereka yang dimakamkan di TMP dari generasi yang berbeda, ada satu hal yang sama pada mereka: semangat pengorbanan demi bangsa ini. Jika kita sempat mengamati salah seorang dari mereka ketika hidup, Insya Allah ia adalah seorang yang memang pantas ditauladani. Sebagian besar kita memang tidak melihat langsung ketika mereka berjuang dulu tapi sikap siap berkorban untuk kepentingan luas ini masih tercermin dalam masa sisa hidup mereka.

Jika sebagian dari kita bisa mentauladani dan menerapkan sebagian pula dari sikap mereka yang sudah disemayamkan di TMP, tak terbayangkan dampaknya pada akselerasi dan ketertiban kehidupan kita berbangsa. Itulah yang mestinya membuat kita merinding ketika mengunjungi TMP.

Sementara upacara ziarah berlangsung khidmat, roda kehidupan sebagian besar warga masyarakat di luar TMP tetap berjalan sebagaimana biasa.

08 November 2008

Cicipilah Makanan Walaupun ke Negeri Cina

Kalau berkunjung ke negeri Cina (termasuk Taiwan & Hongkong), makan memang agak menjadi masalah. Di se antero dunia Chinese Food memang sudah terkenal, namun dari segi rasa belum tentu di semua kota di Cina sana sesuai dengan lidah seorang Melayu dari nusantara. Selain masalah rasa, bagi seorang Muslim pula cukup sulit untuk bisa makan dengan santai dan nikmat.

Ini bukan sekedar masalah selera tapi yang lebih prinsipil lagi adalah kepatuhan pada tuntunan hidup. Pengalaman saya berkunjung ke berbagai kota di Cina (termasuk di Taiwan: Taipei dan Hualien), meskipun dalam kunjungan wisata atau bisnis yang dengan guide, soal makan terpaksa jadi agenda khusus. Rasa sedap makasan Cina di negeri kita tidak mudah kita jumpai di sana karena rupanya itu memang berasal dari daerah-daerah di bagian Selatan atau Tenggara. Di restoran terapung Hongkong yang terkenal dan tarifnya selangit itu misalnya, masakannya memang "masuk" tapi di daerah lain rasa dan baunya agak berbeda; cenderung seperti bau obat tradisional Cina.

Dari sisi ingredient, perlu ekstra hati-hati. Konsep halal yang kebanyakan dimengerti mereka hanya soal ada atau tidak adanya "bak" (pork) dalam masakan itu. Restoran-restoran di sana tidak tahu bahwa yang masuk dalam golongan tidak bisa dikonsum seorang Muslim juga derivativenya seperti minyaknya (lard). Selain itu binatang hidup di dua alam (contohnya swike), dan golongan unggas yang tidak disembelih. Walaupun masalah sembelih ini bagi sementara pihak masih debatable jika kita di luar negeri, yang jelas hal ini tentu menimbulkan was-was di hati.

Pengalaman saya dan sekitar 15 teman beberapa bulan lalu di Shanghai cukup unik. Karena pilihan tempat makan halal terbatas (umumnya restoran timur Tengah atau Chinese Food orang asal Indonesia, tapi tetap ada menu tidak halalnya) dan sudah mulai bosan dengan rasa-rasa yang kurang pas itu, ketika malam terakhir di Shanghai kami dijamu dinner oleh beberapa pengusaha anggota Chamber of Commerce sana kami minta dengan makanan Muslim. Semua bergembira dan memang dari 19 jenis menu yang disajikan satu persatu, dari segi rasa "masuk", termasuk sejenis sup seperti sup kepala ikan yang rasanya asam, asin, pedas.... Nano-nano dan gurih lah pokoknya sehingga pada mau nambah.

Ketika mau minta tambah itulah ada yang nanya, ternyata itu swike yang menurut pengertian mereka, termasuk rekan kita Indonesian Chinese, tidak tahu bahwa itu tidak halal. Beberapa orang yang tahu langsung berlari ke kamar mandi, sementara yang tidak ikut makan pada terbahak-bahak yang mengherankan para host sampai akhirnya diceritakan. Saya yang berada di meja lain juga sempat tambuah setengah mangkok lagi dan menikmati dengan santai. Ketika pagi-pagi besoknya saya diberitahu, terjadi reaksi otomatis dan ketika lari ke kamar mandi sudah tidak ada lagi yang keluar.

Belum lagi masalah peralatan masak dan makan yang dipakai, seperti pisau, periuk, kuali, pinggan-mangkuk, dan alas pemotong daging (talenan). Jika itu tercampur dengan yang tidak halal tentu ada syariah atau ketentuan fiqh yang harus dipenuhi sebelum kita bisa menikmati makanan yang dihasilkan dari proses itu. Banyak restoran yang menyajikan masakan Muslim tapi rupanya hanya labelnya saja; juga tidal layak menggunakan predikat itu jika ternyata dilengkapi pula dengan belly dancing. Karena itu jika berkunjung ke Cina memang harus ketat dalam agenda makan.

Jika menggunakan travel agent, sejak awal sudah harus dibuat komitmen tentang agenda makan ini, termasuk defenisinya, mulai waktu pesan tiket pesawat. Seandainya ada, lebih baik memilih seafood atau telur dan sayur-sayur atau vegetarian yang masih bisa dijumpai di berbagai tempat. Sebagian orang berpendapat, golongan unggas juga termasuk yang dapat dikonsum karena dianggap disembelih oleh saudara para ahli kitab atau darurat. Namun karena debatable tadi, lebih baik menghindarinya. Masih banyak makanan lain yang bisa membantu kita tetap segar dan sehat untuk beberapa hari dan dapat dinikmati tanpa rasa was-was.

Sangat bagus sekali jika dalam rombongan ada rekan kita yang bisa berbahasa Mandarin sehingga sekali gus bisa membantu memeriksa ingredient dan sekali gus sebagai taster, kalau tidak mau makan menu istimewa, misalnya ikan steamed dengan kacang mete tapi rasa jamu. Jadi, kalau bisa bawa seorang Chinese spoken taster, cicipilah makanan walaupun ke Negeri Cina.

31 Oktober 2008

Danau Maninjau: An Unforgetable Beauty of Nature

“Ranah Minang adalah tanah dimana kasih sayang Allah tumpah,” demikian keyakinan banyak orang di Sumatera Barat. Betapa tidak, orang-orangnya pintar dan kreatif sejak dahulu; alamnya yang berada pada gugusan Bukit Barisan di pantai Barat Sumatera indah dan subur, banyak tempat-tempat menarik yang dapat dikunjungi. Ditambah dengan kedekatan budaya dan daya tarik kulinernya, wajar jika Sumatera Barat menjadi salah satu tujuan wisata orang Riau.

Beberapa waktu lalu, the Backpackers (the B) mengulangi kunjungan ke Maninjau dan Bukittinggi. Kedua daerah ini sudah baberapa kali kami kunjungi ketika empat anggota the B masih kecil sehingga kunjungan kali ini merupakan sebagian dari napak tilas dan mencoba melihat sisi lain yang ada di sekitarnya. Dengan menggunakan sebuah van yang kami kendarai sendiri, perjalanan yang dimulai ba’da Ashar langsung menuju ke Maninjau.

Nuansa positif dari perjalanan kami pertama sekali terasa ketika berhenti untuk sholat maghrib di sebuah masjid di daerah waduk Koto Panjang. Masjid itu cukup besar, terpelihara, dan bersih kamar mandi/WCnya, tanpa ada petugas masjid yang menyodor-nyodorkan kotak sumbangan. Mungkin selain karena faktor lokasi yang tepat dan luas, hal-hal tersebut menyebabkan para pelintas banyak yang mampir yang dengan sendirinya tentu banyak pula yang menyambangi kotak wakaf.

Satu hal yang kurang nyaman adalah kondisi jalan yang tidak begitu mulus, berbelok-belok dengan tanjakan dan penurunan di daerah perbukitan. Kebanyakan the B memilih tidur untuk menghindarkan rasa mual dan memang tidak banyak yang dapat dilihat dalam kegelapan malam. Kemacetan di daerah bottle neck Kelok Sembilan terobati melihat lampu-lampu kendaraan di jalan yang bertingkat-tingkat dan berkelok-kelok itu. Di daerah tanjakan itu sekarang sedang dibangun flyover untuk mengurangi derajad kecuraman jalannya. Selain itu, bayangan daerah tujuan yang tetap membuat semangat.


Sekitar pukul 23.00 kami sampai di resort Nuansa Maninjau yang sudah kami pesan untuk istirahat. Resort itu terletak persis di ketinggian sebelum menurun ke Danau Maninjau. Waktu siang hari, panorama dari resort yang sejuk itu ke arah danau sangat indah. Menyaksikan segala kebesaran Allah itu menyadarkan betapa kecilnya kita sebagai makhluk citaanNya. Kemudian pagi itu, The B yang yunior memanfaatkan itu untuk berenang dan berendam airpanas.

Siangnya kami menuruni jalan Kelok 44 menuju ke Danau Maninjau yang terlihat cool dan penuh misteri itu. Kecuali yang menyetir kendaraan, the B menikmati panorama yang indah di sepanjang turunan yang berkelok-kelok sebanyak 44 kali itu. Yang luar biasa adalah di daerah itu nampaknya masyarakat sangat memperhatikan kelestarian lingkungan alam yang menjadi benteng keterjalan kontur muka bumi. Pepohonan sangat rindang dan masih banyak kera hutan yang berkeliaran di pinggir jalan.

Danau Maninjau yang berjarak 140 Km dari Padang (36 Km dari Bukittinggi) ini alamnya menakjubkan dan subur; merupakan bekas letusan gunung api yang diduga terjadi 52 ribu tahun lalu. Danau vulkanik ini panjangnya 16 Km dengan lebar 7 Km atau dengan luas 99,5 Km persegi dan kedalaman mencapai 165 meter pada ketingian 461,5 meter di atas muka laut. Dengan kedalaman rata-rata 102 meter, danau yang banyak ditumbuhi ganggang dan airnya sejuk ini dimanfaatkan penduduk untuk melakukan kegiatan perikanan tangkap atau keramba.
Karena kami sudah pernah sampai di daerah danau dan perut masih kenyang, maka kami melanjutkan perjalanan sejauh 15 Km menyusuri pinggir danau yaitu desa Molek yang merupakan tempat kelahiran Buya Hamka.

(Sumber foto: pustaka.pu.go.id/detail.asp?module=1&id=80, www.visiting-place.blogspot.com/2008_04_01_ar..., www.pbase.com/markeast/image/68096731, indahnesia.com/picture/SBA/002/image.php)

30 Oktober 2008

Laskar Pelangi: Bisa Meneteskan Airmata Lebih Deras

Film Laskar Pelangi yang isinya jauh dari kemewahan, waktu diputar di teater-teater ternyata meledak. Jika ingin nonton, apalagi milih tempat duduknya, harus pesan tiket lebih dahulu. Film itu setting artistik dan ceritanya memang sangat bagus karena berdasarkan suatu kejadian asli yang dialami pengarangnya di Belitong (lebih sering ditulis Belitung).

Banyak yang memberi komentar bahwa film itu menggambarkan wajah pendidikan kita. Masyarakat di pedesaan apalagi yang kurang mampu sangat sulit untuk mendapatkan pendidikan yang baik. Di lokasi-lokasi yang tidak terjangkau sekolah negeri, masyarakat mendirikan sekolah swasta dengan kondisi yang kembang kempis.

Bagi saya yang waktu SMP (1971-1972) pernah berada di Tanjung Balai Karimun, film itu tidak hanya sekedar menggambarkan dunia pendidikan kita tapi keadaan masyarakat kecil secara keseluruhan. Pulau Karimun di Provinsi Kepulauan Riau yang juga menghasilkan timah memiliki suasana lingkungan yang tidak jauh berbeda dengan Belitong. Sebagaimana juga di Singkep, terjadi disparitas sosial dan ekonomi yang mencolok antara lingkungan tambang timah dan masyarakat biasa.

Sebagai contoh, ketika masyarakat biasa harus berebut-rebut naik bis yang sangat sederhana, teman-teman sekolah saya dari perumahan PN Timah (populer dengan singkat PN) sudah diantar dengan bis sekolah khusus yang kondisinya lebih baik. Ketika kebanyakan murid hanya punya satu pasang sepatu untuk segala kegiatan, anak dari PN ada yang sudah memakai jaket jean Lee yang original dan membawa buah apel ke ke sekolah. Ketika sebagian dari kami menjauhi kantin sekolah karena tidak punya uang jajan, anak-anak PN sering dengan murah hati mentraktir teman-teman. Alhamdulillah, sebagaimana dalam film Laskar Pelangi, ternyata anak-anak non-PN yang hidupnya lebih bersahaja banyak yang prestasinya lebih baik.
Kesenjangan ini tidak hanya terjadi diantara anak-anak sekolah yang lebih melihat dengan cara sederhana tapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Pada hari-hari orang PN turun ke kota dari permukiman mereka yang berjarak sekitar satu jam dengan mobil, maka pasar juga jadi lebih ramai. Keadaan ini, khususnya pada awal bulan, kadang menyebabkan naiknya harga-harga di pasar. Sementara aktifitas ekonomi di lingkungan PN cenderung tidak mengalir ke luar, masyarakat tempatan lebih banyak sebagai penonton atraksi yang penuh dengan atribut konsumerisme itu.
Jika ada orang-orang yang bisa ikut bekerja di PN, kebanyakan hanya pada peran-peran harian atau tidak penting. Beberapa orang tetangga saya ketika itu dapat kesempatan untuk jadi satpam atau buruh harian yang biasanya tidak tahan lama karena tidak biasa dengan kerja berat dan teratur. Jika punya keahlian olahraga volly (tim volly PN sering jadi juara kecamatan) maka akan sedikit lebih beruntung dipekerjakan di kantor. Jika tak punya keterampilan, tak ada koneksi, atau nasib kurang baik maka jadilah para pemuda sebagai penonton yang penuh cemburu sehingga sering bentrok dengan para pemuda atau pegawai warga PN.


Bukannya karena ketika itu saya masih SMP sehingga tidak tahu apa yang terjadi, tapi dari informasi yang saya tahu sampai hari ini, ketika itu memang tidak ada program community development (CD) atau corporate social responsibility (CSR) dari PN Timah untuk memberdayakan masyarakat di lingkungan konsesinya sebagaimana sekarang. PN merasa bekerja sesuai dengan tugas atau misinya, sedangkan masyarakat tempatan melihat bagaimana bumi mereka dikeduk tanpa membawa banyak perubahan pada kehidupan mereka.
Belum lagi jika kita bicara aspek lingkungan; ribuan hektar muka tanah dan laut cedera dan robek oleh kegiatan tambang yang sampai hari ini nampaknya tidak ada program recovery yang konseptual dan efektif. Di Singkep dan Karimun kita masih bisa menjumpai lobang-lobang kolam raksasa (ada yang menyebutnya kolong) peninggalan kapal keruk timah yang lebih banyak membawa mudarat. Kompleks daerah operasi di dua pulau ini ketika kegiatan PN Timah berakhir juga ditinggalkan begitu saja. Kantor, rumah sakit, sekolah, dan perumahan banyak yang terlantar karena serah terima asetnya (sebelum reformasi) tidak lengkap dengan program pemeliharaan dan pemanfaatan.

Karena itulah, bagi orang yang tahu riwayatnya atau masyarakat tempatan di pulau-pulau bekas tambang timah, film Laskar Pelangi rasanya akan dapat meneteskan airmata lebih deras lagi ketimbang ketika menceritakan Lintang meninggalkan sekolah reot dan gurunya yang penuh kasih itu. Itu jika kolong-kolong sisa tambang timah juga diperlihatkan.

23 Oktober 2008

Bintan: Lagoi nan Eksklusif dan Nostagia Batam

Bintan juga punya kawasan wisata yang ekslusif. Hari ke tiga kami akan mengunjungi Lagoi dan menruskan perjalanan ke Batam yang merupakan kota nostalgia The Backpackers (the B). Setelah sarapan kami check-out dan meluncur menuju ke kawasan wisata Lagoi di Bintan Utara. Jalan yang kami ikuti, sebelum berbelok ke Barat di daerah Berakit untuk masuk kembali ke jalan arteri Bintan, masih menyusuri tepi pantai melewati kawasan wisata Pantai Trikora. Selain beberapa resort, daerah ini merupakan kawasan wisata umum yang banyak dikunjungi pada hari-hari libur.


Pantai Trikora
Terletak di sebuah teluk, Pantai Trikora merupakan pantai yang landai dengan hamparan pasir putih yang disambut oleh lidah laut nan biru dan tenang. Tebing pantainya juga masih kombinasi antara pepohonan dan singkapan batuan granit yang terajut menjadi gubahan alam yang mendecakkan. Ketika saya mampir beberapa waktu dulu, cukup ramai pengunjung yang menikmati keindahan pantai atau bermain di laut sambil menikmati kelapa muda di bawah lambaian pohon kelapa.

Sayang sekali objek wisata ini baru dikembangkan sekedarnya. Tempat pengunjung dikelola oleh masyarakat secara tradisional; ketersediaan sarana dan layanan masih sangat minimal dan seadanya, termasuk urusan kebersihan. Entah karena lahan-lahan disepanjang pantai itu milik perorangan atau karena hanya mengandalkan sumberdaya manusia dan dana pemerintah daerah saja, kawasan wisata ini bagaikan batu mulia yang belum diasah. Selain pantai, kebun kelapa yang sudah tua dan rerimbunan hutan belukar sepanjang jalan merupakan pemandangan yang menarik.

Jalan menuju Lagoi di sekitar pantai Trikora

Jalan lokal dari Trikora ke Lagoi ini sangat cocok untuk mereka yang suka road cycling, pikir saya. Ketika saya surfing di internet, ternyata memang sudah ada klub sepeda demikian yang didirikan oleh orang dan bermarkas di Singapura!! Kadang sedih juga kok banyak tempat-tempat di negeri kita lebih dinikmati oleh orang dengan murah tanpa banyak membawa dampak kemakmuran pada masyarakat setempat.

Perjalanan ke Lagoi makan waktu hampir dua jam, termasuk di jalan dalam kawasan wisata Lagoi. Jalan yang dibuat oleh pengembang sangat mulus dengan geometri yang baik. Tempat yang kami tuju adalah Pantai Mana-Mana yang sekarang namanya Nirwana Beach Club.


Nirwana Beach Club (dulu pantai Mana-Mana), Lagoi

Kawasan Lagoi yang diresmikan oleh Presiden Soeharto dan PM Singapura Goh Chok Tong 18 Juni 1996 ini memang ekslusif. Disana terdapat beberapa resort pantai mewah dengan hotel bintang lima dan lapangan golf yang lebih cenderung dipasarkan untuk orang asing melalui Singapura. Ada satu hole par 3 di padang golf Ria Bintan yang terkenal karena pemandangannya sungguh breathtaking. Jumlah kunjungan wisman mencapai 40 ribu orang per bulan dengan tarif dollar sehingga menjadi kawasan yang asing bagi masyarakat Bintan sendiri. Karena itu juga, the B memilih menginap di Teluk Bakau dan hanya mencoba berbagai alat water sports di Nirwana Beach Club sampai sekitar jam 14.00, kemudian menuju Tanjung Uban.


Breathtaking Hole 9 (Par 3) of Ria Bintan Golf Course (from Internet)

Setelah makan siang di Tanjung Uban kami langsung menyeberang ke Telaga Punggur, Batam, dengan speedboat umum dan menuju ke arah kota. Di daerah Sukajadi kami mampir untuk sholat di sebuat masjid yang cantik dan bersih, sebelum mengenang masa lalu ketika kami tinggal di Sungai Harapan, Batam, tahun 1993-1994. Pertama kami mengantarkan Affan melihat sekolah TK Kartini-nya, ke rumah yang pernah kami tempati, terus ke SD Kartini tempat Ashri dan Dani sekolah, dan Kantor Dinas PU Batam.
Tak lupa kami juga menyempatkan berputar-putar di kawasan perbelanjaan Nagoya. Sangat terasa saat ini tidak begitu ramai lagi pengunjung di Nagoya; selain keperluan wanita seperti parfum, tas, sepatu, dan semacamnya, barang-barang yang dijual juga terbatas dan kurang uptodate. Kami coba window shopping di toko kamera dan alat-alat komputer, lebih baik kita membeli barang-barang sejenis di Jakarta yang lebih lengkap dan harganya hampir sama.
Malam itu kami kembali menyempatkan menikmati kuliner ikan di Seafood Sampan. Disebut demikian karena tempat makan ini memajangkan ikan mentahnya dalam wadah berupa sampan untuk dipilih oleh peminat; bisa dibakar, goreng, steam, masak asam manis atau tauco. Kami memilih menikmati ikan lobam (baronang) bakar, kangkung belacan (cah terasi), dan lokan asam manis di meja di bawah langit, sesuai dengan ke khasan makan di situ.

Setelah beristirahat malamnya, hari berikutnya adalah perpisahan. Anggota the B terbagi dua; tiga orang yang kuliah di Bandung langsung dari Batam ke Jakarta sedangkan saya bertiga kembali ke Pekanbaru. Meskipun kami sudah bersama-sama tiga hari, perpisahan itu terasa cukup menyesakkan karena tidak berlangsung di rumah. Dengan sedikit sendu dan mata berkaca-kaca the B masuk ke dua ruang tunggu bandara yang berbeda. Anyway, alhamdulillah kami sudah diberi kesempatan untuk mengagumi kebesaranNya dengan penuh rasa kebersamaan.

20 Oktober 2008

Bintan: Lingkungan Bahari Nan Kaya

Bintan memang lingkungan bahari nan kaya. Hari kedua di Bintan, kami menghabiskan hari untuk melaut. Jam 10 pagi The Backpackers (the B: saya, isteri, Ashri, Dani, Affan, dan Dinda) serta dua orang wisatawan Singapura yang dikawal dua orang pemandu, dengan menggunakan speedboat meninggalkan jetty Bintan Agro menuju kawasan Pulau Mapur, lokasi snorekeling. Perjalanan dalam cuaca cerah dan tenang itu ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Pulau ini dan beberapa pulau lainnya yang berada di depan Teluk Bakau melindungi teluk itu dari terpaan langsung gelombang Laut Cina Selatan.

Laut di Teluk Bakau membiru berkilauan diterpa cahaya mentari pagi itu. Masing-masing the B yang sudah siap dengan perlengkapannya penuh keingintahuan seperti apa keindahan laut dan karang di sekitar Bintan ini. Salah seorang anggota the B yang sudah pernah menyelam di Lampung, Pulau Seribu, dan Tulamben Bali banyak memberi info tentang keindahan terumbu karang dan fauna di tempat-tempat lain itu.
Jika anda sudah menonton film Laskar Pelangi, di gugusan pulau-pulau sekitar Bintan juga banyak singkapan batu granit seperti di Belitong. Meski kami tidak mendarat di pasir putih yang membentang, pulau-pulau itu sangat indah dan jika direnungkan ia mampu mengecilkan kita sebagai hamba Allah Sang Maha Pencipta. Keindahan pulau-pulau yang kebanyakan kosong ini membangkitkan rasa ingin berlama-lama di sana.
Sampai di lokasi di depan pantai Pulai Mapur boat berhenti dan jangkar dilemparkan. Ditemani dua pemandu itu, satu persatu peserta termasuk dua Singaporean itu mencebur ke air, kecuali saya dan isteri, yang tetap mengenakan pelampung sampai beberapa waktu kemudian dilepasnya karena kepanasan. Si gadis kecil kami juga sempat menikmati pemandangan indah dasar laut itu beberapa puluh menit dengan kawalan abang-abangnya secara bergantian. Lautnya sangat jernih dan bersih dengan kedalaman 2 sampai 4 meter sehingga dari atas boat kami juga dapat melihat dasar laut yang penuh karang.
Ketika beristirahat di atas boat, mereka menceritakan pengalaman masing-masing. Ashri melihat banyak rumpun karang yang lebih indah dengan ikan yang relatif lebih banyak di daerah tubir (tebing curam dasar laut) yang agak jauh dari boat. Saat kami disitu, ikan agak kurang di karang karena sedang pergi ke bagian yang lebih dalam melewati tubir; setelah hari agak teduh sorenya, ikan-ikan itu baru akan kembali ke daerah karang yang lebih dangkal.
Dani yang aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa "Nautika" (pencinta selam) di ITB menyebutkan bahwa meskipun tidak seindah di Tulamben Bali, karang yang ada disitu cukup indah seperti yang ada di Pulau Seribu. Bahkan dia menjumpai jenis yang berwarna hijau-biru yang dia tidak tau jenisnya dan habitat karang yang masih sangat perawan. Karena itu dia sangat menyayangkan adanya jangkar besi yang dilemparkan tadi yang mana pada saat diangkat nanti akan merusak karang yang baru akan tumbuh jadi seukuran itu lagi sekitar 10 tahun kemudian. Jangankan kena jangkar, dipegang manusia pun karang itu akan terpengaruh pertumbuhannya. Terlepas dari environmental concern itu, yang pasti semua sangat senang menikmati keindahan karang disitu sehingga tak terasa hari sudah siang.
Perjalanan pulang diarahkan ke dua pulau yang lebih dekat dengan pantai Bintan di Teluk Bakau. Yang pertama, di Pulau Beralas terdapat resort kecil dengan cottage-cottage ala Papua di depan pantai yang berpasir sangat putih yang hanya kami lewati saja. Menurut pemandu, untuk menikmati resort yang sangat indah dan tenang itu kita harus merogoh kocek tak kurang dari S$1.000 per malam. Itu pun harus booking dulu sebelumnya melalui agen pemasaran di Singapura.
Pulau yang kedua adalah Pulau Pasir Putih yang tidak kalah cantiknya namun di sana hanya ada beberapa pondok tempat nelayan berhenti. Kami turun untuk bermain-main di pantainya yang lautnya jernih. Ketika kami datang beberapa orang putih (bule) sedang bersiap-siap akan kembali ke salah satu resort di pantai Teluk Bakau. Sangat luar biasa pengalaman bahari hari itu, sampai jam 14.00 tidak terasa bahwa perut sudah lapar. Sesegera sampai kembali di resort kami makan ala fastfood dan istirahat atau bermain-main sampai menjelang maghrib.
Hari kedua ini kami memang benar-benar dapat menikmati keindahan ciptaan Allah yang tidak jauh dan asing dari kediaman kami di Pekanbaru. Kegiatan melaut dan snorekeling terasa sangat memuaskan, sepadan lah dengan biaya Rp400 ribu per orangnya.
Malamnya kami kembali candle light diner dengan menu seafood yang berbeda. Ada menu khusus malam itu: gonggong, semacam siput laut yang direbus kemudian makannya dicacah dengan saus kacang agak pedas. Gonggong ini didapat dari laut sekitar Bintan karenanya, itu memang hanya populer di sekitarnya dan Batam. Cara makannya mula-mula "kaki"nya yang seperti kuku kepiting ditarik keluar, jika tidak terjangkau jari digunakan garpu kecil atau tusuk gigi. Kemudian ditarik pelan-pelan sehingga seluruh badannya terbawa. Tinggal dicacah dan hm.. ke dalam mulut... kecuali kukunya yang berzat tanduk itu...
Selesai makan malam, selanjutya kami simpan tenaga karena pagi besoknya akan melanjutkan perjalanan ke kawasan wisata Lagoi, Bintan bagian Utara yang terkenal itu.