Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karakter. Tampilkan semua postingan

08 November 2009

Leadership of the Prophets: Kepengikutan

Kepemimpinan yang banyak berbicara tentang cara dan karakter seorang figur dalam berhubungan dengan lingkungan sosial dan kehidupannya, juga mempunyai satu komponen dasar yang tidak kalah penting: para pengikutnya. Seorang pemimpin akan exist kalau ada sikap kelompok orang yang menghormati, menauladani, dan mengikuti ajarannya dengan baik dan benar atau kita sebut sebagai kepengikutan. Karena itu dalam kepemimpinan, kepengikutan menjadi salah satu bahasan.

Kepengikutan juga dapat kita tinjau dengan pendekatan prophetic leadership dalam buku Pemimpin Istimewa Ala Rasulullah karya Imam Nawawi. Dalam melihat kepengikutan ini kita dapat mengacu pada banyak tuntunan yang berasal dari langit melalui contoh dari para Nabi (devine references). Yang paling sering dikutip sebagai pondasinya adalah firman Allah dalam Al-Quran Surah An-Nisa’ ayat 59:

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu…”

Bagi orang-orang yang beriman, wajib baginya selain menaati Allah dan Rasul juga menaati para pemimpin mereka. Ketaatan kepada Allah mendapat tempat tertinggi yang asasi dan merupakan sumber dari berbagai ketaatan lainnya. Beriman dan taat kepada Allah berarti mengakui keberadaan dan kekuasaanNya, mengikuti segala perintahNya, dan meninggalkan segala laranganNya. Elaborasi dan implementasinya telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang harus ditaati oleh orang beriman.

Sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim berbunyi: “Barangsiapa taat kepada saya, ia taat kepada Allah. Barangsiapa melawan saya, ia melawan Allah. Barangsiapa taat kepada pemimpin negara, sebenarnya ia menaati saya. Barangsiapa melawan pemimpin negara, sebenarnya ia melawan saya.

Selanjutnya, yang menjadi fokus tulisan singkat ini adalah perihal kepengikutan yang mengacu pada prophetic leadership. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menggambarkan bagaimana ketaatan atau kepengikutan pada pemimpin itu.

Abdullah bin Umar r.a. berkata: “Orang Islam wajib mendengarkan dengan patuh dan taat segala arahan pemimpin, baik perkara itu disukai maupun dibenci, kecuali apabila ia diperintahkan untuk melakukan maksiat. Apabila diperintahkan untuk melakukan maksiat, ia tidak boleh mematuhi perintah itu.”

Hadits ini menekankan bahwa wajib mematuhi pimpinan baik suka atau pun tidak, kecuali jika ia memerintahkan untuk melakukan kemusyrikan atau maksiat. Jika tidak, maka kita sudah ditunggu oleh sanksi sebagaimana dinyatakan dalam hadits riwayat Muslim berikut.

Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidak taat kepada penguasa, ia akan bertemu Allah pada Hari Kiamat nanti. Sementara pada saat itu ia tidak punya alasan untuk membela diri atas kesalahannya itu. Sesungguhnya, orang yang meninggal dunia sementara pada waktu itu ia tidak menaati pemimpin yang baik, ia akan mati dalam keadaan jahiliah, yaitu sesat.”

Kepengikutan itu juga tidak membedakan warna kulit seorang pemimpin. Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dengarlah dengan patuh dan taat, sekalipun pemimpin itu adalah hamba keturunan kulit hitam dan di kepalanya itu seakan-akan ada bintik hitam kecil-kecil.” Hadits ini tentu mengisyaratkan juga bahwa terhadap seorang pemimpin yang legitimate, kepengikutan itu mutlak.

Dalam hikayat Nabi Musa a.s. dengan pengikutnya bani Israil yang konflik dengan Fir’aun, terdapat pembelajaran tentang kepengikutan. Ketika lari dari kejaran Fir’aun dan lebih dari sejuta bala tentaranya, Nabi Musa dan sekitar 300 ribu bani Israil sampai ke pinggir Laut Merah sehingga banyak pengikutnya yang menjadi cemas dan mulai salah menyalahkan, termasuk pada Nabi Musa yang dianggap menyebabkan mereka akan dibantai pasukan Fir’aun. Nabi Musa yang berbuat berdasarkan tuntunan Allah tetap sangat yakin akan adanya jalan keluar dan menenangkan pengikutnya sambil menunggu petunjuk Allah.

Sementara pada saat kritis itu para pengikutnya mulai menghujat, dengan petunjuk Allah Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut yang menyebabkan air laut itu menyibak membentuk sebuah koridor jalan di dasar laut sehingga mereka bisa menyeberang. Bukannya bersyukur, sampai di seberang para pengikut Musa masih menghujat lagi karena kawatir tentara Fir’aun yang sedang ikut menyeberang di koridor itu akan menangkap mereka. Karena tidak istiqomah kepada pemimpin, mereka memaksa Musa untuk memukulkan lagi tongkatnya supaya laut bertaut kembali.

Musa tidak memukulkan tongkatnya karena kawatir ummatnya akan mempertuhankan tongkat itu, tetapi menyeru pertolongan kepada Allah yang menautkan kembali laut itu sehingga akhirnya Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam. Moral dari hikayat ini, kepengikutan antara lain menuntut kesetiaan berdasarkan tauhid (devine based loyality), rasa istiqomah bersama pemimpin meskipun berkonsekuensi nyawa, dan etika atau kesantunan pada pemimpin.

Akan tetapi kepengikutan itu juga dikawal oleh suatu prinsip-prinsip yang digambarkan oleh hadits berikut. Nasa’I meriwayatkan: ”….. pada suatu saat seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, ‘Jihad seperti apakah yang lebih utama?’ Nabi Muhammad menjawab, ‘Mengucapkan kalimat benar di hadapan pemimpin yang zalim.’”

Mengutip kesaksian Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dalam sebuah hadits (riwayat Abu Daud, Tirmizi, dan Nasa’i): “….. saya juga pernah mendengar Nabi Muhammad bersabda, ‘Percayalah, apabila manusia melihat kezaliman, tetapi mereka tidak bangun menentang kezaliman itu, Allah menurunkan siksa-Nya kepada semua manusia.’”

Demikian pentingnya kepengikutan ini sehingga mendapat tempat yang khusus dari Al-Quran dan hadits. Berdasarkan buku Imam Nawawi itu, dapat kita ringkaskan dan sarikan konsep kepengikutan terhadap para pemimpin yang legitimate sebagaimana disyariatkan, antara lain sebagai berikut:

1. Wajib taat pada pemimpin berdasarkan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW (devine based loyality).

2. Wajib mematuhi arahan pemimpin atas suatu perkara dan berusaha melaksanakannya dengan baik, terlepas dari perkara itu disuka atau tidak, dalam keadaan susah atau senang, rela atau terpaksa, bahkan meskipun akan merugikan kepentingan sendiri, dan dengan tetap bersikap santun (istiqomah).

3. Orang yang memecah-belah persatuan ummat akan mati dalam keadaan mati jahiliah, yaitu sesat.

4. Tidak wajib mengikuti pimpinan yang memerintahkan untuk berbuat kemusyrikan dan maksiat.

5. Kepengikutan tidak mengenal perbedaan ras, warna kulit, asal lapisan sosial sang pemimpin.

6. Memegang janji setia yang dilakukan dengan sepenuh hati kepada pemimpin dan membelanya jika ada yang mencoba merampas kekuasaan pemimpin itu.

7. Tetap mendengarkan dan taat terhadap pemimpin meskipun ia tidak memberikan hak-hak pengikut yang menjadi tanggungjawabnya; para pengikut bertanggungjawab pula terhadap apa yang diamanahkan dan minta lah hak-hak itu kepada Allah.

8. Bersabar terhadap tindakan yang dibenci dari pemimpin, apalagi dia masih sholat bersama-sama ummat; jika seseorang membantahnya walaupun sedikit maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.

9. Dilarang merendah-rendahkan pemimpin (negara) karena Allah akan merendahkan diri pelakunya itu.

10. Berani menyampaikan kebenaran sekalipun di hadapan pemimpin yang zalim dan bangun untuk menentangnya jika melihat suatu kezaliman (sebagai civic responsibility) karena jika tidak maka Allah akan menurunkan siksaNya kepada semua manusia.

Nah, konsep dan norma sudah tersedia. Sekarang bagaimana kita menyikapinya? Semoga kepengikutan ini dapat kita cermati untuk menghindarkan sanksi Ilahiah dan membawa kemaslahatan bagi negeri kita dan orang banyak. Insya Allah.

30 Oktober 2009

Bingkisan untuk Presiden SBY, Wakil Presiden, dan Para Pemimpin

Presiden SBY dan Wakil Presiden SBY sudah dilantik tanggal 20 Oktober lalu. Pelantikan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II pilihan SBY telah pula berlangsung dua hari sesudah itu. Sebagai warga Negara, selain wajib mendukung pemerintah yang legitimate ini, kita tentu juga mengucapkan rasa syukur dan tahniah atas kepercayaan yang diamanahkan rakyat yang dapat kita curahkan dalam berbagai bentuk dan cara.


Saya juga berkeinginan untuk mengekspresikan rasa itu secara ikhlas dengan cara saya sendiri. Mengirimkan karangan bunga kepada beliau-beliau semua tentu tidak praktis dan mungkin kurang besar manfaatnya, bukan dalam arti pamrih agar mereka mencatat nama saya, karena tidak akan memberikan implikasi yang signifikan bagi orang ramai. Memasang iklan di media, selain akan makan biaya yang sangat mahal untuk manfaat yang juga kurang mengena pada kepentingan umum, bisa pula mendorong ke pamrih atau riya.


Sebagai gantinya saya akan “membingkiskan” dua buah buku kecil tentang kepemimpinan untuk pak SBY dan Budiono beserta para menteri dengan harapan mudah-mudahan isinya relevan dan bermanfaat bagi mereka sebagai para pemimpin yang telah dipercaya rakyat. Mereka adalah orang-orang yang punya reputasi dan teruji sudah dalam kancah politik, pemerintahan, profesi, ataupun kemasyarakatan kita namun demi makin mantapnya upaya mereka menjalankan tugas menyejahterakan bangsa kita, tidak ada salahnya kalau kado ini saya kirimkan sebagai bahan bacaan. Saya sebut buku kecil karena secara fisik kedua buku yang saya jumpai dengan tidak sengaja di toko buku ini memang kecil namun ternyata memuat sesuatu yang besar tentang kepemimpinan.


Kejadiannya bermula ketika saya penasaran dengan isu kepemimpinan (leadership) yang ketika itu menghangat dengan pelantikan presiden dan wakil presiden, munas partai, dan proses pemilihan para calon menteri. Rasa penasaran tentang leadership itu berkaitan dengan paradigma kepemimpinan, persepsi tentang jabatan, proses pemilihan, dan pelaksanaan dari yang diamanahkan. Berbagai pendapat dan komentar bersilang siur di berbagai media dari bermacam ragam orang sehingga tidak nampak lagi main stream dari kepemimpinan yang baik dan benar serta acuan yang dipakai. Karena itu, ketika saya melihat kedua buku ini waktu saya melintas di rak buku-buku agama di toko buku itu, langsung saya ambil.


Buku pertama merupakan kompilasi tentang nash Quran dan Hadits yang dilakukan oleh Imam Nawawi berdasarkan koleksi terpilih dari Kitab Riyadus Solihin. Berbagai ayat Quran dan Hadits Nabi (yang diriwayatkan oleh para perawi terpercaya) yang berkaitan dengan kepemimpinan menurut tuntunan syariah didedahkan sehingga dapat kita pakai dengan mudah. Banyak hal yang kita jumpai hari ini sudah diidentifikasi sejak zaman Nabi dulu dan diperlihatkan juga berbagai aspek yang relevan dengan kita hari ini.

Buku kedua berjudul PROPHETIC LEADERSHIP Kepemimpinan Para Nabi ditulis oleh Achyar Zein, seorang dosen IAIN Sumetera Utara yang sedang mengikuti pendidikan S3 di IAIN Ar-Raniry (mudah-mudahan beliau sekarang sudah selesai). Buku yang diterbitkan tahun 2008 ini memuat sejarah dan aspek kepemimpinan yang berkaitan dengan 25 orang nabi. Hikayat itu dikutip dari Quran melalui berbagai tafsir dan beberapa buku agama karangan para ulama Timur Tengah. Yang menarik, penulis dapat memberikan pencerahan dan pemahaman yang baik dan menarik serta mampu pula membuat berbagai interprestasi dan kajian implementatif yang sesuai dengan keadaan lokal kita di Indonesia.


Dengan modal dua buku sederhana ini, akan saya coba buat sintesis tentang bagaimana konsep kepemimpinan yang sudah ditunjukkan para Nabi dan praktek-praktek dalam kehidupan pada masa madaniah Rasulullah dahulu. Meskipun saya bukan seorang ahli manajemen yang berkaitan dengan kepemimpinan , norma-norma yang dapat kita petik Insya Allah akan tetap bermanfaat dan relevan dengan kepentingan kita zaman sekarang. Mudah-mudahan saya bisa mengangsurnya dalam bentuk serial tulisan yang akan saya muat di blog saya riau2020.wordpress.com dan riau2020.blogspot.com serta akan saya kutipkan untuk Notes jejaring Facebook saya. Ini lah yang saya maksud sebagai kado sederhana yang mampu saya berikan untuk keberhasilan dan kelancaran pelaksanaan tugas Presiden, Wakil Presiden, para Menteri, dan para pejabat tinggi Negara dalam Kabinet Indonseia Bersatu II. Semoga.

17 Oktober 2009

Pengalaman Kecelakaan Mobil (1)

Pengalaman kecelakaan mobil pernah saya alami tiga kali; pertama ketika mengemudikan dan yang dua kalinya ketika menjadi penumpang. Alhamdulillah, dengan kuasa Allah saya terhindar dari cedera yang berarti dalam kedua kejadian itu.

Ketika masih bekerja di sebuah kontraktor di Jakarta tahun 1984, saya bersama beberapa young engineers difasilitasi kendaraan operasional “kijang kotak” station yang multifungsi, sebagai “mobil dinas”, angkutan staf/pekerja, ataupun beli material yang kecil-kecil. Karena jumlah supir terbatas, saya yang sering jadi pengemudi ketika pergi bersama rekan-rekan kerja lainnya. Maklum, saya baru masuk di kantor itu.

Sebagai fresh graduate dan sesuai dengan usia, masih banyak kebanggan diri; mengemudikan kendaraan juga masih senang menginjak pedal gas dari pada rem. Di jalan tol Jagorawi, kijang kotak itu bisa lari sampai 120 km/jam, apalagi kalau para staf yang menumpang di belakang makin memberi semangat. Biasanya, rekan saya yang duduk disebelah yang mulai bergumam namun tidak jelas karena desis angin dan suara kendaraan lain dari jalur berlawanan yang masuk dari jendela yang terbuka sebagian. Pokoknya lebih seru dari mikrolet…!

Suatu kali sekitar jam 15.00, kami lewat di sebuah jalan kecil di daerah belakang Taman Mini dalam keadaan hujan kecil. Jalan dua arah itu sempit dengan bahu jalan yang rendah karena tergerus air dan aspal dalam keadaan basah. Sebagai jalan tembus, jalan itu ramai, termasuk sepeda motor dan juga menjadi rute Metro Mini.

Pada suatu segmen yang lurus, kami berpapasan dengan sebuah Metro Mini yang seperti biasa sedang “kejar setoran”. Sebenarnya pada bagian yang lurus jalan itu sangat pas untuk berpapasan jika masing-masing kendaraan berada pada posisi yang tepat. Akan tetapi si mikrobis oranye tidak peduli yang membuat saya harus mengalah lebih ke pinggir sehingga ban mobil kami jatuh ke bahu yang rendah itu. Karena juga dalam kecepatan sekitar 60 km/jam, tepat sesaat habis berpapasan, “mikrolet” kami melintir ke arah belakang kembali dan menabrak pohon di seberang jalan. Anehnya mobil tidak terguling; hanya remuk pas di tengah-tengah bagian depan yang merusakkan radiatornya. It costed me about a month of my wage. Alhamdulillah, kami tidak cedera sedikit pun dan biaya itu akhirnya ditanggung oleh perusahaan karena kami memang sedang pergi tugas. Bagaimana pun, timbul juga rasa sesal; karena menegakkan ego, keselamatan dipertaruhkan. Sejak saat itu, saya lebih memilih mengalah ketika mengemudi karena nampaknya jalan-jalan kita (makin) banyak dipenuhi oleh orang-orang nekad.

Moral cerita: Kebanggan diri (ego) ketika muda dan penuh keberhasilan kadang bisa membuat kita lupa pada keberadaan dan kepentingan pihak atau orang lain, bahkan pada keselamatan diri dan orang banyak. Sayangnya kesadaran itu sering datang terlambat, ketika kecelakaan itu sudah terlanjur menimbulkan kerugian jiwa, tubuh, atau harta benda. Bagi kita yang masih dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, ketika mengemudi, mari lebih mengutamakan keselamatan dari pada ego, apalagi jika sedang bersama orang-orang yang kita sayangi. Tapi bagaimanakah memberikan pengertian ini pada mereka yang masih “menggelegak” tanpa harus ada korban lagi?

09 Juli 2009

Pepatah

Dalam masyarakat Melayu sangat lazim penggunanan peribahasa atau pepatah. Peribahasa adalah ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung pengertian tertentu, bidal, atau pepatah (Wikipedia). Insterumen pepatah ini digunakan untuk menyampaikan sesuatu kekurangan atau kelemahan secara tidak langsung agar tidak menjadi perselisihan atau tetap dapat menjaga tali silaturrahim.


Bagi sebagaian orang atau generasi sekarang cara ini mungkin dianggap kurang efisien atau bertele-tele namun kalau kita kembalikan ke martabat kemanusiaan, pendekatan social-budaya ini tentu masih sangat relevan. Ia akan dapat menghindarkan gesekan atau menekan eskalasi tensi antara para pihak yang berbeda pandangan tentang suatu hal. Cara-cara yang langsung dan lugas (straight forward) bisa jadi efektif namun akan menjadi bahan bakar pada pihak lain yang merasa dirugikan atau yang terpojok. Selain bahwa pepatah itu suatu instrumen pergaulan dalam peradaban, kunci lain adalah pemahaman awal (biasanya mentradisi) terhadap maksud dari masing-masing pepatah sehingga ketika kita mendengarnya sudah otomatis tahu konteks dan kemana arah percakapan orang yang menyampaikannya.


Ada dua pepatah yang dapat dijadikan contoh pada era pemilihan langsung hari ini. Pertama, “Buruk muka, cermin dibelah”; maksudnya seseorang yang ketika bercermin melihat mukanya yang buruk atau tidak sesuai keinginannya lantas karena marah memecahkan cermin itu. Maknanya adalah orang yang tidak mau mengakui kekurangan diri sendiri tapi lebih cenderung mempermasalahkan dan menyalahkan orang lain. Terlepas dari kekurangan orang lain itu, secara akal-budi dan kemanusiaan yang bermartabat seyogyanya kita lebih melihat kekurangan dan kelemahan diri sendiri agar bisa melakukan koreksi terlebih dahulu. Akan jadi kontroversi jika kelemahan kita lebih besar dari kelemahan orang lain yang kita kritisi.


Pepatah kedua adalah: “Hidung tak mancung, pipi disorong-sorongkan.” Maksud pepatah ini adalah seseorang yang ternyata hidungnya tidak mancung sebagai salah satu lambang kegagahan atau kecantikan tapi mencoba menggantikannya dengan pipi yang fungsinya tentu berbeda. Agak sejalan dengan yang pertama, pepatah ini menggambarkan orang yang memaksakan kehendak agar diterima sebagai menantu, dalam jabatan tertentu, atau pemimpin sementara orang tahu ada kekurangannya sehingga tidak dipilih.


Sebenarnya ada banyak lagi peribahasa atau pepatah yang senada dengan keduanya, seperti: ”Kaki yang pincang, dikatakan lantai berjungkat” dan ” Tak lalu dandang di air, di gurun ditanjakkan juga” (dandang = perahu, pen). Sebaliknya, yang tidak akan kita kaji pada kesempatan ini, juga terdapat beberapa pepatah yang mengajarkan kearifan, kerendahan hati, dan sikap kesatria dan mau mengintrospeksi diri dalam tradisi Melayu.


Tunjuk ajar Melayu ini tentu lahir dari tradisi kehidupan yang sudah teruji dan disepakati.
Karena itu sudah sepatutnya kita simak kearifan yang diusungnya. Mudah-mudahan kita termasuk pada orang yang mau menyimak kaearifan itu.

03 Mei 2009

T o k o h

Tokoh adalah wujud dari kompetensi dan pengakuan. Seorang tokoh adalah seseorang yang kompeten dan menonjol dalam pencapaian hasil dalam suatu bidang yang diakui oleh orang-orang di dalamnya atau yang mengenal itu dengan baik. Karena itu, seorang tokoh sangat berpengaruh dan akan didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, atau dalam bahasa awam dituakan dalam kelompoknya.

Meskipun belum tentu tua secara umur, sang tokoh akan lebih dihormati dan jadi panutan ketika capaiannya lebih menonjol sehingga makin dikelilingi oleh para pengagum dan pengikutnya. Pada keadaan itu, pengaruh dan popularitasnya merambat ke luar lingkungan gerak langkahnya hingga tanpa peduli bidangnya jadilah ia sebuah lambang atau representasi dari kelompoknya. Tidak heran jika kita mendengar keberadaan tokoh dari berbagai bidang, sejak tokoh penjahat, tokoh masyarakat, tokoh penegak hukum, hingga tokoh ulama.

Namun ketokohan juga memiliki kenisbian. Seorang tokoh yang reputasinya terjaga dan konsisten akan tetap diakui sampai akhir hayat dan akan jadi legenda. Sebaliknya, meskipun mempunyai reputasi luar biasa seorang tokoh bisa meredup kalau reputasi itu tidak terjaga dan tidak berkembang dengan baik atau mengalami guncangan yang inkonsisten dengan moral lingkungan ketokohannya. Soerang tokoh kritis yang dianggap sebagai penyambung lidah rakyat misalnya, akan ditinggalkan atau digantikan oleh tokoh baru ketika ia kedapatan "berselingkuh" dengan pihak yang ia kritisi.

Banyak contoh lain yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Yang sangat menonjol adalah seorang tokoh ulama muda yang dengan izin Allah sangat sukses membangun citra dan branding dirinya dalam waktu relatif singkat sehingga mempunyai banyak pengagum, terutama kaum wanita. Kejayaan itu runtuh seketika waktu dia akhirnya menjelaskan pada publik tentang poligami yang dijalaninya. Meskipun mungkin tidak ada yang salah dan itu halal, para pengikutnya melihat itu sebagai suatu inkonsistensi terhadap moral yang diusung sang tokoh selama ini.

Hari ini, kita dikejutkan lagi dengan kasus yang terjadi pada seorang tokoh formal dalam penegakkan hukum bidang tindak pidana korupsi. Meskipun kita tetap berprasangka baik dan menerapkan azas presumption of innocent, berita tentang keterlibatannya dalam hal lain di luar bidang profesinya ini mengalahkan kehebohan politik yang biasanya mendominasi media dan langsung menjatuhkan citra tokoh tersebut.

Kedua tokoh ini memang fenomenal. Sang ulama yang sebenarnya sampai sekarang pun kompetensinya masih mengena di hati ini demikian memikat dan menimbulkan empati yang dalam pada jamaah. Pada masa jayanya ia diperlakukan bagaikan seorang wali yang dalam zaman modern ini otomatis masuk ke dunia selebriti.

Sementara sang tokoh hukum, dengan lembaga dan posisinya juga sudah demikian menonjol reputasinya. Oleh mereka yang jadi target lembaganya, ia bagaikan seorang malaikat maut yang siap mencabut nyawa. Bagi para pendukungnya dan pejuang anti-korupsi pula, ia adalah seorang pahlawan penegakan hokum diantara sedikit yang kita punya hari ini. Apa pun, citra kedua tokoh ini sudah terlanjur runtuh yang sekali gus juga memudarkan ketokohannya.

Hilangnya ketokohan secara mendadak ini perlu juga kita lihat secara batin. Seorang teman pernah mengatakan bahwa ketika ketokohan seseorang sudah sampai pada posisi yang membahayakan atau merugikan dirinya atau pengikutnya secara akidah, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain, mestinya tokoh itu berhenti dan kembali ke relnya. Namun jika tidak disadarinya atau malah lupa diri (takabur) maka Allah lah yang akan menghentikan dengan cara-cara yang tak terduga. Karena itu kompetensi dan reputasi kita harus senantiasa berorientasi pada stake holder dan dalam koridor syariat. Ini lah moral tulisan ini yang mudah-mudahan jadi pelajaran bagi kita. Dalam Al-Quran telah disebutkan bahwa Allah akan memberikan kekuasaan kepada yang dikehendakiNya dan mencabut pula kekuasaan itu dari yang tidak dikehendakiNya. Wallahualam.

03 Maret 2009

Coffee Morning

Coffee Morning tentu beda dengan minum ke kedai kopi pagi-pagi. Kalau yang terakhir, yang lazim disebut minum atau ngopi, populer terutama di kawasan pantai Timur Sumatera. Meskipun coffee morning menggunakan bahasa Barat, namun keduanya mempunyai dua unsur pokok: sarapan yang tentunya juga menyediakan kopi dan pembicaraan atau bincang-bincang.

Suatu kali dulu, isteri saya yang bukan dari Sumatera heran melihat teman-teman kantornya yang setiap pagi suka pergi minum ke kedai kopi. Sampai dia mempunyai persepsi bahwa di rumah kawannya masing-masing tidak terbiasa sarapan pagi atau para lelaki di Pekanbaru memang punya kebiasaan yang dinilai kurang family friendly. Terlepas dari penyebabnya, saya hanya bisa membela bahwa para lelaki itu memang punya sifat kodrati untuk bersosialisasi. Meskipun sudah sarapan di rumah ia tetap ingin ke kedai kopi untuk melepas hasrat kodrati itu.

Kedai kopi hanya sekedar tempat untuk bertemu muka satu sama lain. Selain memang ingin sarapan atau melengkapi yang sudah didapat di rumah, berbagai hal dapat dibincangkan; sejak yang penting dan serius sampai yang remeh-temeh, sejak pemilihan ketua RT sampai pelantikan Obama, dan tak lupa pula menebar dan menangkap peluang bisnis.

Entah mana yang lebih dulu, rasanya lobi kedai kopi yang turun dari tradisi dagang Timur ini sudah ada sejak lama. Makanya kedai kopi lebih populer di negeri-negeri pantai sejak pesisir Cina, Vietnam, Thailand, Malaysia, pantai Timur Sumatera, dan pantai Utara Jawa. Dalam masyarakat modern sekarang, tradisi ini telah diadopsi dan masuk ke pakem bisnis dengan nama coffee morning itu.

Di negara-negara Barat tradisi ini dipakai untuk pertemuan-pertemuan informal dan sebagai pencairan suasana (ice breaker) antara para pihak yang berkepentingan. Untuk keperluan non-bisnis pun sudah lazim hal itu dilakukan karena efektif dan relatif murah karena kecnderungannya dengan cara self service.

Dengan cara ini para peserta mengalihkan sarapannya dari sendiri-sendiri menjadi bersama sambil berkenalan atau bincang-bincang ringan tentang isu-isu strategis yang berkenaan. Coffee morning bahkan sering lebih efektif dari pada rapat yang penuh pengarahan, atau workshop yang diikuti dengan tidak serius yang belum tentu membangkitkan tindak lanjut secara parsial. Apalagi hal bisnis atau investasi, jika cocok tentu interaksi dan tindak lanjut akan terjadi dengan sendirinya setelah pintunya terbuka di coffee morning yang memang domain otoritas atau asosiasi ini. An investor is not blind.

03 Februari 2009

Basa-Basi versus Kesantunan

Basa-basi dan kesantunan makin sulit dibedakan orang hari ini. Kadang basa-basi menjadi penting karena dianggap sebagai suatu kesantunan yang mempengaruhi sikap penerimanya; sebaliknya bagi sementara orang, kesantunan kurang penting karena dianggap sebagai basa-basi yang hanya akan membuang waktu dan energi saja.

Secara prinsip keduanya memang berbeda. Basa-basi hanyalah bagian dari komunikasi yang lebih bersifat artifisial, misalnya sapaan, atau mungkin bisa juga "ice breaking" yang berfungsi lebih sebagai pengantar. Tergantung pada pelaku dan tujuannya, kata-katan yang dipilih, dan cara serta suasana penya,paiannya, basa-basi bisa menjadi interaksi yang bagus atau malah mejadi tingkah memuakkan. Tak heran jika basa-basi belakangan ini lebih berkonotasi negatif karena sering dimunculkan dalam bentuk puja-puji yang berlebihan.

Sebaliknya kesantunan lebih merupakan cara berkomunikasi. Berakar dari nilai-nilai luhur primordial, kita diajarkan untuk menghormati orang lain. Tidak hanya orangtua yang memang sudah jadi kewajiban masing-masing atau yang dituakan tapi ada bidal yang mempersonafikasikan demikian: yang ditinggikan se ranting, yang didahulukan se langkah; tanpa menghiraukan usia, jender, ataupun harta benda. Bahkan kadang itu juga perlu dilakukan terhadap orang yang kita anggap pada taraf yang kita anggap lebih rendah. Itulah sebabnya melakukan kesantunan pada orang lain ini tidaklah semudah mengatakannya, apalagi pada zaman sekarang.

Banyak orang menganggap kesantunan juga semacam basa-basi yang merepotkan untuk dikerjakan. Sementara ego dan nafsu kita berkehendak untuk menggelembungkan diri kita, kesantunan memerlukan kesabaran untuk mengecilkan diri sendiri terhadap orang kepada siapa kita sedang berinteraksi. Namun bila kerendahan hati itu diungkapkan dengan cara yang “lebai” maka kesantunan juga bisa jatuh ke jurang basa-basi yang berkesan negatif. Di sisi lain interaksi yang tidak santun juga akan berkesan negatif karena terasa tidak sopan dan kasar; tidak jarang akan berbuntut pada perselisihan atau konflik anarkis.

Karena itu, kesantunan secara proporsional tetap merupakan pilihan terbaik dalam komunikasi dan interaksi antar anak manusia yang masih memegang adab atau budaya kemanusiaan (civilized humanism). Dengan kesantunan kita tetap bisa tegas dan jelas pada siapapun tanpa terjebak pada basa-basi atau kata-kata kosmetik yang kadang menjurus pada lain di mulut lain di hati atau beda di muka dengan di belakang. Zaman sekarang kita memang harus jadi manusia yang tegas, jelas, efektif, dan efisien dalam kata dan perbuatan. Namun sepanjang manusia masih punya rasa dan nurani maka kesuksesan belum akan bisa maksimal tanpa interaksi dan komunikasi yang santun.

03 Januari 2009

Koin

Koin (coin) atau mata uang logam, selain mempunyai nilai nominal, sering menjadi acuan yang sangat penting dan menentukan. Secara fisik koin mempunyai dua sisi yang berbeda, sering dipakai untuk mengundi terhadap dua pilihan seperti dalam memilih tempat pada pertandingan sepakbola, tapi bernilai setara. Jika pada satu sisi menyatakan harga nominalnya, di sisi lainya tertera legalitas atau mengekspresikan value atau bobot yang diusung oleh mata uang itu.
Karena itu koin juga sering dipakai untuk mengumpamakan dua hal setara yang saling menunjang dan tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem yang diharapkan berfungsi. Sebagai contoh, pada sekolah: majelis guru dan tata usaha bagaikan berada pada suatu koin. Sebaliknya koin dipakai pula untuk mempertanyakan adanya dua keadaan kontroversial yang muncul pada sistem yang sama. Jika pada satu sisi putih, akan sangat mengherankan jika sisi lainnya hitam. Jika ini berlaku pada manusia, sering dikatakan bermuka dua atau dalam bahasa agama disebut munafik.

Banyak riwayat yang menceritakan contoh orang-orang munafik ini; mengaku beriman tetapi di belakang menggunting dalam lipatan terhadap kaumnya. Dalam bentuk yang lebih ringan, banyak juga kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa menafikan diri kita sendiri yang kadang belum bisa tegas memisahkan yang baik dan buruk, hari ini tak kurang pula kita dapat menjumpai orang dengan sifat muka koin ini.

Akan sangat mengejutkan jika kita mendapati ada orang dari high rank yang bermuka dua; satu sisi sangat “jaim” bahwa dia pribadi baik dan mulia tapi dibaliknya ternyata dengan sengaja dan berani melakukan hal yang berlawanan. Hal itu hanya berdampak pada citra yang bersangkutan selama tidak bersentuhan langsung dengan pihak lain. Namun ketika itu sudah merugikan orang lain, apalagi secara vertikal, maka selain meruntuhkan citra juga akan bisa berdampak langsung, baik secara fisik seperti tindakan balasan ataupun hukuman.

Naudzubillahi min zalik, semoga Allah menjauhkan kita dari sifat negatif ini.