Tampilkan postingan dengan label pantun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pantun. Tampilkan semua postingan

04 Desember 2008

Pantun: Untaian Kata Penuh Makna

Pantun hari ini hanya populer di negeri-negeri Melayu, itupun lebih banyak sebagai pelengkap dari ungkapan berbudaya Melayu. Padahal ia merupakan salah satu sastera lisan yang diwariskan oleh para pujangga sejak zaman kerajaan-kerajaan Melayu dulu yang merupakan kawasan asal Bahasa Indonesia. Tingginya falsafah dan muatan budaya pada pantun, sepatutnya jadi mendorong kita agar berupaya melestarikannya.



Menurut pemahaman saya yang awan, pantun merupakan ungkapan perasaan dan pikiran yang disampaikan melalui empat baris untaian kata-kata yang berkaitan. Dua baris pertama disebut sampiran; baris ke tiga dan ke empat adalah isi. Tiap baris terdiri dari 4 sampai 5 kata yang jumlah seluruh suku-katanya 8 sampai 12.

Antara sampiran dan isi terdapat kaitan kesamaan bunyi, terutama pada kata yang terakhir. Kesamaan bunyi antara baris sampiran dan isi ini sering dikatakan sebagai rima (dari ritme mungkin ya?) dengan diskripsi rumusan bunyi “ab-ab”, “aa-bb”, atau “aa-aa”. Makin dekat kesamaan bunyi ini dan makin banyak kata-kata pada sampiran dan isi yang mempunyai kesamaan bunyi, makin enak sebuah pantun didengar.

Jadi pantun gaul seperti berikut ini tidaklah masuk ke dalam kriteria pantun yang sebenarnya.

“Jaka Sembung makan kedondong,
Ya ga nyambung dooooong…..”

Selain jumlah baris, kata, dan suku katanya tidak memenuhi kriteria, pantun gaul ini lebih pada menekankan bunyinya yang “a-a” saja. Juga maknanya memang tidak menyambung antara sampiran (yang Cuma satu baris) dan isi yang juga satu baris. Mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai “ungkapan ngepop” saja. Bagaimana pula pantun yang ini:

“Ikan sepat ikan gabus,
Ketiga dengan ikan lele,
Makin cepat makin bagus,
Juga jangan bertele-tele.”

Yang kedua ini sepintas sudah memenuhi kriteria pantun yaitu dari segi baris, jumlah kata dan suku kata, kesamaan bunyi, konteks baris-baris sampiran, dan baris-baris isi. Dari segi kandungan baris isi juga sudah bagus, namun sampirannya berbentuk frasa; padahal lazimnya dan akan setara bila juga berbentuk kalimat sehingga setara antara sampiran dan isi.

Dari segi arti yang meskipun tidak ada kaitan secara langsung, sampiran dan isi menggambarkan kualitas sebait pantun. Sampiran berfungsi sebagai pengantar atau pengkondisian menuju sebuah ledakan pikiran dan emosi pendengar atau pembaca pantun. Karena itu sampiran sering memakai perumpamaan atau keadaan alam yang menggambarkan atau berkaitan dengan kandungan yang disampaikan isi. Ketika pantun menjadi bahasa pergaulan yang disampaikan secara spontan, nampaklah betapa tingginya nilai seni sastera pantun yang memerlukan kepiawaian dan kecerdasan sang pembuat atau pengucapnya.

Ditinjau dari isinya, pantun bisa memuat berbagai misi mulai dari nasehat sampai humor. Karena itu ada yang disebut dengan pantun nasehat, pantun kasih, pantun adat, pantun jenaka, dan sebagainya. Jika waktu dulu dipakai untuk menyampaikan maksud secara santun dan halus, zaman sekarang pantun lebih sebagai bunga-bunga interaksi lisan dalam suatu kegiatan kolektif seperti sambutan, pidato atau orasi, acara adat, perkawinan, dan acara-acara hiburan.

Karena itu pula, untuk menjaga kelestarian sastera Melayu yang cerdas ini perlu dilakukan usaha-usaha pengenalan dan sosialisasinya secara baik dan konsepsual kepada generasi muda. Selain terus dipakai dalam acara-acara adat, sebaiknya diadakan acara berbalas pantun lebih sering dan berkelanjutan. Memahami dan menikmati pantun yang merupakan warisan tradisi Melayu ini kan bisa oleh siapa saja dan tidak mesti harus jadi seorang yang ahli dulu untuk bisa membuat pantun. Jika anatominya sudah kita pahami, ternyata membuat pantun itu mudah!!

Rimbun sungguh si dahan kayu
Tempat anak dara bercengkrama
Pantun adalah warisan Melayu
Hendaknya kita jaga bersama-sama

Sumber foto:
http://flickr.com/photos/11011091@N08/2566065056, melayuonline.com, http://flickr.com/photos/20947530@N06/2046480874, opiniindonesia.com/opini/?p=content&id=13

11 Oktober 2008

Pantun: Ekspresi Cerdas Khazanah Melayu

Pantun, menurut saya, adalah ekspresi yang cerdas dalam budaya Melayu. Kata demi kata sarat makna dan kiasan yang diungkapkan dalam khazanah tempatan. Antara sampiran dan isi tidak hanya sekedar ada kesamaan bunyi tapi mempunyai tautan kultural yang kontekstual.

Di Riau, banyak orang ketika mengakhiri sambutan --khususnya para pejabat atau tokoh--sering menyampaikan pantun tapi dalam kehidupan sehari-hari tidaklah seperti pada zaman kesultanan dulu ketika orang bisa berbalas pantun secara spontan. Kelihatannya, makin muda suatu generasi maka akan makin terasinglah pantun jika tidak jadi menu budaya yang dihidangkan dengan baik.

Sesuai pengalaman pribadi saya yang bukan sasterawan, membuat pantun memang tidak mudah. Pernah suatu kali, saya memberikan kata perpisahan pindah kerja dalam bentuk pantun sebanyak 17 bait yang mengherankan hadirin karena dikira dibuat hanya bebrapa menit sebelum acara. Padahal bait-bait itu saya siapkan berhari-hari ; dalam dua hari terakhir jadi susah tidur karena kawatir sambutan itu sekedar jadi pantun akrobatik semacam pantun gaul di ibukota: Jaka sembung makan kedondong,…. Ya ga nyambung dooong...

Karena itu pada blog ini, sebagai sesama awam saya ingin sharing tentang pantun ini. Pada tahap ini bait-bait yang sudah terpampang sebelumnya saya pindahkan ke bawah ini karena sudah cukup banyak dan isinya sudah lewat “masa tayang” yaitu tentang puasa dan pemilukada Riau berikut hasilnya. Ke depan saya berupaya menampilkan pantun-pantun yang lain dan coba menuliskan penerokaan saya yang awam dalam membuat pantun.

Pantun-pantun terdahulu:

Cantik sekali gelang suasa
Digosok dengan si kain satin
Bersihkan hati jelang puasa
Mohon maaf lahir dan bathin
(29 Agustus 2008)

Jika shaum sekedar formal
Ketika siang lemas terkapar
Hendaknya diisi dengan amal
Agar tak cuma haus dan lapar
(3 September 2008)

Awal Ramadhan penuh rahmah
Sepuluh hari puasa berlalu cepat
Sekarang sudah penggal magfirah
Tubuh terasa fit pahala pun dapat
(13 September 2008)

Bila tukang tegak bangunan
Berdoa sebelum memecah tanah
Ramadhan masuk penggal ampunan
Senin Riau pilih pemimpin amanah
(21 September 2008)

Anak kerapu dari Prabumulih
Hendak dipelihara di air payau
Peminpin baru sudah terpilih
Semoga amanah majukan Riau
(23 September 2008)

Membayar zakat kepada fakir
Zakat dibayarkan pagi hari
Puasa segera akan berakhir
Kita rayakan Idhul Fitri

Minal Aidin wal faidzin
Pantun sebagai ganti diri
Mohon maaf lahir dan batin
Semoga kita kembali fitri
(24 September 2008)

Songket dicuci menjadi cantik
Enak dipakai berlama-lama
Gubernur baru tinggal dilantik
Mari kita dukung bersama-sama
(8 Oktober 2008)