11 Desember 2008

Tulus versus Pamrih

Tulus dan pamrih adalah dua kata yang menggambarkan tingkah hati yang tercermin pada laku. Keduanya melalui proses dan gerak yang sama, namun nilainya sangat bertolak belakang yang hanya dapat dibunyikan oleh nurani. Bagaikan dipisahkan oleh selembar membran tipis, kita sulit menemukan arah tingkah hati ini yang sebenarnya, sampai gerak pelakunya selesai atau dihakimi oleh waktu jauh di kemudian hari.

Karena itu, dalam berinteraksi dengan sesama, senantiasa terjadi irama dan riak yang berangkat dari ekspektasi atau prediksi dan realita dari suatu gerak atau laku. Pengalaman yang ada mendorong hati kita ke prediksi negatif (terminologi agamanya: su’uzhon) tapi akan mendapatkan keterkejutan jika realitanya positif. Sebaliknya, ekspektasi yang senantiasa positif (husnuzhon) akan menimbulkan kekecewaan dan appresiasi buruk jika realitanya negatif.

Kemaren, saya mengalami kekecewaan itu karena terjadi pada lingkungan yang dekat sekali. Berangkat dari sikap husnuzhon maka sudah semestinya memberikan kepercayaan pada pihak yang layak dan sepatutnya akan melakukan sesuatu dengan tulus. Ternyata waktu menunjukkan realita yang berbeda; kepercayaan yang terang benderang disambut dengan pamrih secara diam-diam!

Sebagai komtemplasi, jadinya timbul tanya apakah demikian kehidupan itu; sudah demikian langka orang yang melakukan sesuatu dengan tulus? Atau justru kepercayaan itu yang tidak proporsional dan tanpa saya sadari memberikannya tidak pula dengan tulus? Mudah-mudahan Allah mengampuni kita semua.

04 Desember 2008

Pantun: Untaian Kata Penuh Makna

Pantun hari ini hanya populer di negeri-negeri Melayu, itupun lebih banyak sebagai pelengkap dari ungkapan berbudaya Melayu. Padahal ia merupakan salah satu sastera lisan yang diwariskan oleh para pujangga sejak zaman kerajaan-kerajaan Melayu dulu yang merupakan kawasan asal Bahasa Indonesia. Tingginya falsafah dan muatan budaya pada pantun, sepatutnya jadi mendorong kita agar berupaya melestarikannya.



Menurut pemahaman saya yang awan, pantun merupakan ungkapan perasaan dan pikiran yang disampaikan melalui empat baris untaian kata-kata yang berkaitan. Dua baris pertama disebut sampiran; baris ke tiga dan ke empat adalah isi. Tiap baris terdiri dari 4 sampai 5 kata yang jumlah seluruh suku-katanya 8 sampai 12.

Antara sampiran dan isi terdapat kaitan kesamaan bunyi, terutama pada kata yang terakhir. Kesamaan bunyi antara baris sampiran dan isi ini sering dikatakan sebagai rima (dari ritme mungkin ya?) dengan diskripsi rumusan bunyi “ab-ab”, “aa-bb”, atau “aa-aa”. Makin dekat kesamaan bunyi ini dan makin banyak kata-kata pada sampiran dan isi yang mempunyai kesamaan bunyi, makin enak sebuah pantun didengar.

Jadi pantun gaul seperti berikut ini tidaklah masuk ke dalam kriteria pantun yang sebenarnya.

“Jaka Sembung makan kedondong,
Ya ga nyambung dooooong…..”

Selain jumlah baris, kata, dan suku katanya tidak memenuhi kriteria, pantun gaul ini lebih pada menekankan bunyinya yang “a-a” saja. Juga maknanya memang tidak menyambung antara sampiran (yang Cuma satu baris) dan isi yang juga satu baris. Mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai “ungkapan ngepop” saja. Bagaimana pula pantun yang ini:

“Ikan sepat ikan gabus,
Ketiga dengan ikan lele,
Makin cepat makin bagus,
Juga jangan bertele-tele.”

Yang kedua ini sepintas sudah memenuhi kriteria pantun yaitu dari segi baris, jumlah kata dan suku kata, kesamaan bunyi, konteks baris-baris sampiran, dan baris-baris isi. Dari segi kandungan baris isi juga sudah bagus, namun sampirannya berbentuk frasa; padahal lazimnya dan akan setara bila juga berbentuk kalimat sehingga setara antara sampiran dan isi.

Dari segi arti yang meskipun tidak ada kaitan secara langsung, sampiran dan isi menggambarkan kualitas sebait pantun. Sampiran berfungsi sebagai pengantar atau pengkondisian menuju sebuah ledakan pikiran dan emosi pendengar atau pembaca pantun. Karena itu sampiran sering memakai perumpamaan atau keadaan alam yang menggambarkan atau berkaitan dengan kandungan yang disampaikan isi. Ketika pantun menjadi bahasa pergaulan yang disampaikan secara spontan, nampaklah betapa tingginya nilai seni sastera pantun yang memerlukan kepiawaian dan kecerdasan sang pembuat atau pengucapnya.

Ditinjau dari isinya, pantun bisa memuat berbagai misi mulai dari nasehat sampai humor. Karena itu ada yang disebut dengan pantun nasehat, pantun kasih, pantun adat, pantun jenaka, dan sebagainya. Jika waktu dulu dipakai untuk menyampaikan maksud secara santun dan halus, zaman sekarang pantun lebih sebagai bunga-bunga interaksi lisan dalam suatu kegiatan kolektif seperti sambutan, pidato atau orasi, acara adat, perkawinan, dan acara-acara hiburan.

Karena itu pula, untuk menjaga kelestarian sastera Melayu yang cerdas ini perlu dilakukan usaha-usaha pengenalan dan sosialisasinya secara baik dan konsepsual kepada generasi muda. Selain terus dipakai dalam acara-acara adat, sebaiknya diadakan acara berbalas pantun lebih sering dan berkelanjutan. Memahami dan menikmati pantun yang merupakan warisan tradisi Melayu ini kan bisa oleh siapa saja dan tidak mesti harus jadi seorang yang ahli dulu untuk bisa membuat pantun. Jika anatominya sudah kita pahami, ternyata membuat pantun itu mudah!!

Rimbun sungguh si dahan kayu
Tempat anak dara bercengkrama
Pantun adalah warisan Melayu
Hendaknya kita jaga bersama-sama

Sumber foto:
http://flickr.com/photos/11011091@N08/2566065056, melayuonline.com, http://flickr.com/photos/20947530@N06/2046480874, opiniindonesia.com/opini/?p=content&id=13

28 November 2008

HAMKA: Sang Legenda yang Istiqomah

Hamka tidak hanya produktif menulis tapi juga aktif di lingkungan media massa cetak. Sejak tahun 1920-an beliau menjadi wartawan beberapa koran antara lain Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Karirnya meningkat jadi editor majalah Kemajuan Masyarakat pada tahun 1928. Empat tahun kemudian, sebagai editor beliau sekali gus penerbit majalah al-Mahdi di Makasar. Selain itu Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

Segala aktifitas dan produktifitasnya ini membuat Hamka mendapat appresiasi secara nasional dan antarbangsa. Pada tahun 1958 Universitas al-Azhar, Kairo, memberikan Hamka anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa dan tahu 1974 Universitas Kebangsaan Malaysia menganugrahkan gelar yang sama. Sementara itu pemerintah Indonesia memberikan kepadanya gelar Datuk Indomo dan Pengeran Wiroguno.

Kiprahnya yang bersinggungan dengan pemerintah berlanjut ketika pada tanggal 26 Juli 1977 Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia (MUI). Majelis ini dibawah kepemimpinannya telah menunjukkan reputasi yang disegani karena Hamka tegas dan sangat memegang keyakinannya. Ketika nasehatnya tentang larangan menghadiri perayaan Natal bagi orang Islam tidak diindahkan pemerintah, Hamka memilih mengundurkan diri pada tahun 1981.

Sejak itu beliau lebih banyak berdakwah dan beribadah sampai tidak lama kemudian jatuh sakit. Setelah dirawat selama tujuh hari di RS Pusat Pertamina akibat komplikasi penyakit gula dan jantung, pada hari Jumat tanggal 24 Juli 1981 atau 22 Ramadhan 1401 Hijriah jam 10.41 Hamka berpulang ke Rahmatullah. Berita duka ini terasa sangat menghentak dan nusantara berduka secara mendalam.
Hamka telah lama menghadap Sang Khalik yang dirindukannya namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan ummat dan agama Islam. Sikap istiqomah yang diperlihatkannya sepanjang hidup telah membawanya dari seorang anak guru di kampung menjadi seorang tokoh besar yang telah mengukir sejarah perjuangan, pergerakan, sastera, jurnalistik, dan kemajuan agama Islam di rantau Asia Tenggara. Dengan otodidak beliau berhasil mendapat pengakuan sebagai scholar melalui berbagai karya tulis dengan gelar Prof. DR. dari universitas terkemuka. Sudah sewajarnya rintisan yang telah dibuat Hamka dapat diteruskan oleh para generasi penerus sebagai salah satu wujud dari upaya mengisi kemerdekaan. Allahuakbar.

Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullah, http://salam.ui.edu/index.php/Sosial/Mengenang-Jalan-Istiqomah-Sang-Legendaris-HAMKA.html

27 November 2008

HAMKA: Sang Legenda yang Otodidak

HAMKA adalah akronim dari Haji Abdul Malik bin Haji Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh legendaris yang mengisi hidupnya dengan penuh makna sebagai ulama, sasterawan, dan politikus. Beliau yang sering dipanggil dengan Buya yang berarti ayah atau orang yang dihormati ini lahir di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat tanggal 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Lahir dari keluarga guru dan ulama di desa yang indah di pinggir Danau Maninjau, Hamka mulai mengembangkan dirinya di surau, masjid, dan sekolah agama sampai menjadi seorang muda mandiri yang kemudian menjadi sosok yang besar.
Kiprahnya dimulai dari dunia pendidikan. Setelah mendalami agama dan mempelajari Bahasa Arab di Sumatera Thawalib, sekolah agama yang didirikan ayahnya di Padang Panjang, ketika baru berusia 19 tahun Hamka menjadi guru agama di Tebing Tinggi, Sumut; dua tahun kemudian dia mengajar di Padang Panjang. Kemampuannya yang didapat secara otodidak membawa Hamka menjadi dosen di Universitas Islam, Jakarta, dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang, tahun 1957-1958. Kemudian Hamka menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta, dan Profesor di Universitas Mustopo, Jakarta.
Dengan kemampuan bahasa Arabnya Hamka mendalami filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, Hussain Haikal, serta pemikiran para scholar Barat seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti dilalapnya dengan tekun. Hamka juga senang berdiskusi dengan HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo yang menjadikannya pandai dalam banyak hal dan seorang orator handal.

Sesuai dengan keinginannya untuk memerangi khurafat, bid’ah, dan kebatinan sesat yang masih membelenggu umat, rekam jejak Hamka dalam pergerakan Islam sangat kuat di organisasi Muhammadiyah. Beliau mengikuti perkembangan Muhammadiyah sejak tahun 1925 dan tiga tahun kemudian menjadi ketua cabang di Padang Panjang. Tahun 1929 Hamka membentuk pusat latihan pendakwah Muhammadiyah sebelum dijadikan konsul Muhammadiyah di Makassar tahun 1931. Berbagai aktifitas ini mengantarkan Hamka menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat tahun 1946 dan sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah tahun 1953. Selain aktif berdakwah di dalam negeri, beliau juga aktif dalam berbagai forum ulama internasional.

Hamka juga sempat berkiprah di lingkungan pemerintahan tapi tidak bertahan lama karena lebih tertarik dengan pergerakan dan politik. Pada tahun 1951 Menteri Agama menunjuk Hamka jadi Pegawai Tinggi Agama namun jabatan itu ditinggalkannya ketika Presiden Soekarno meminta Hamka memilih sebagai PNS atau aktifis politik di Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Keterlibatan Hamka dalam politik sebenarnya sudah dimulai pada tahun 1925 sebagai anggota Sarekat Islam. Pada zaman pra-kemerdekaan, beliau berjuang secara oral dan perang gerilya dalam hutan di Sumut agar Belanda tidak menjajah Indonesia kembali.

Pasca kemerdekaan Hamka makin merasakan asam garam politik. Tahun 1947 Hamka terpilih menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional Indonesia dan anggota Konstituante Masyumi yang bertugas sebagai orator utama dalam Pilihan Raya Umum 1955 sampai kemudian pemerintah Indonesia mengharamkan partai itu pada tahun 1960. Dengan tuduhan pro Malaysia, Presiden Soekarno memenjarakan Hamka dari tahun 1964 hingga tahun 1966. Justru bagi Hamka “Penjara bukan sekedar tempat tahanan tetapi adalah Universitas kedua” yang dibuktikannya ketika dalam penjara itu beliau berhasil menulis Tafsir Al-Azhar yang merupakan karya terbesarnya; satu-satunya Tafsir Al-Qur’an tulisan seorang ulama Melayu yang gaya bahasanya mudah dicerna, sekali gus membuktikan kualitas intelektual Hamka sebagai seorang ulama besar nusantara.
Memang, selain seorang aktivis keagamaan dan politikus, Hamka adalah seorang penulis, wartawan, editor, dan penerbit yang sangat luar biasa. Selama hidupnya, Hamka melahirkan tidak kurang dari 79 karya tulis yang dimulainya sejak masih berusia dua puluh tahunan. Dari jumlah judul tulisannya, Hamka sangat produktif menulis ketika berumur 30 sampai 58 tahun. Puncaknya adalah pada tahun 1950 ketika beliau bisa menerbitkan 11 judul karya tulis.

Berbagai karya ilmiah Islam serta novel dan cerpen yang dihasilkannya mendapat perhatian yang luas ketika itu. Bahkan beberapa novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah, dan Merantau ke Deli, selain mendapat sambutan di nusantara, juga menjadi buku teks kesusasteraan di Malaysia dan Singapura (bersambung).

No News Good News

No News Good News merupakan ungkapan yang sering dipakai sebagai excuse jika berita yang mestinya ada tidak dapat dikirim atau disampaikan. Saya sudah beberapa hari ini merasakan hal yang sama karena belum berhasil menyelesaikan tulisan untuk mengisi blog.
Bukannya kurang bahan tapi waktu dan kesempatan lah yang masih membatasi menyelesaikan sebuah tulisan yang sedang terbengkalai. Bagaikan membaca alam ini, kalau kita mau rasanya tidak akan pernah habis yang dapat kita luahkan dalam buah pikiran kita. Tapi rupanya keterbatasan itu lah yang sudah pasti milik kita. Mudah-mudahan saya tetap diberi kemampuan dan keleluasaan untuk berpikir, menulis, dan berbuat yang mungkin baik dan bermanfaat bagi siapapun, sebagai pemenuhan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Alhamdulillah, so far, memang no news good news.

21 November 2008

Gubernur Riau 2008-2013

Gubernur Riau dan Wakil Gubernur Riau untuk masa jabatan 2003-2013 dilantik oleh Mendagri hari ini, Jumat tanggal 21 November 2008 di Gedung DPRD Provinsi Riau. H.M. Rusli Zainal, SE, MP sebagai Gubernur dan H.R. Drs Mambang Mit sebagai Wakil Gubernur adalah hasil pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Provinsi tanggal 22 September 2008 yang dilakukan secara langsung. Meskipun tingkat partisipasi hanya 40,68 persen atau 1.912.433 dari jumlah yang ada dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 3.223.967 jiwa, pasangan ini adalah Gubernur dan Wakil Gubernur tahun 2008-2013 yang legitimate .

Sebagai konsekuensinya, seluruh komponen pemerintahan dan masyarakat harus mendukung dan membantu keberhasilan pelaksanaan tugas keduanya. Adanya perbedaan pandangan dan aliran politik selama proses pemilihan adalah suatu hikmah dan hal yang wajar saja namun sejak hari ini semuanya harus dikonvergensikan kembali mengarah pada kejayaan Riau dan kemaslahatan masyarakat. Tentu banyak keinginan dan harapan positif yang ditumpukan pada kedua pimpinan daerah ini tapi lebih penting lagi memberikan waktu dan kesempatan kepada keduanya untuk bekerja dengan leluasa.

Riau dengan segala problematika, tantangan, dan peluangnya memerlukan konsentrasi, upaya yang fokus, kerja keras aparatur, dan partisipasi seluruh komponen masyarakat. Masih banyak yang harus dilakukan untuk menekan angka tingkat kemiskinan masyarakat, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (lahir dan bathin), dan mengembangkan infrastruktur yang diperlukan untuk peningkatan ekonomi daerah secara luas.

Selamat bekerja pak Gubernur dan Wakil Gubernur, semoga Allah meridhoi kita semua.

15 November 2008

Kateter Jantung: Pengalaman Mendebarkan

Kateter jantung atau Coronary Angiogram adalah suatu proses medis untuk mengetahui kelancaran aliran darah dalam jantungi. Ketika menjalaninya, yang membuat saya cemas adalah tidak sesuainya ekspektasi saya bahwa kateter ini hanya sebuah tes biasa-biasa saja dengan pelaksanaan yang sebenarnya; pemeriksaan ini mempunyai proses seperti satu operasi ringan. Prinsipnya akan dimasukkan seutas selang ke dalam jantung melalui pembuluh darah kemudian melalui itu disemburkan sejenis cairan sensor yang tertangkap oleh “mata” peralatannya untuk dilihat di sebuah TV monitor. Cairan itu diteliti alirannya mengikuti darah sehingga dapat diketahui jika ada saluran atau urat darah di jantung yang menyempit atau tersumbat.



Karena nadi di tangan saya sempit maka akan dilakukan melalui nadi di paha dan dalam prosesnya bisa jadi akan ada pembiusan lokal atau total jika perlu. Sungguh tidak nyaman saya yang tidak sakit dan sepenuhnya sadar dipersiapkan untuk masuk ruang operasi. Saya harus menggunakan pakaian pasien yang hanya satu lapis dan karena di sekitar paha harus digunduli. Bagaikan PSSI yang kalah telak lawan kesebelasan Eropa, saya pasrah dicukur seorang petugas laki-laki dan jadi bahan candaan para perawatnya yang servicing dan ramah. Juga cukup pedih ketika perawat itu memasukkan sebuah jarum untuk pentil injeksi di nadi sekitar pergelangan yang baru berhasil setelah melakukannya dua kali.
Perasaan jadi lebih tidak enak lagi ketika mereka memasang gelang identitas pasien di lengan kiri dan saya harus menandatangani surat-surat pernyataan persetujuan terhadap resiko operasi yang mungkin timbul, padahal masuk rumah sakit itu seorang diri. Mungkin karena tahu saya gelisah, sebelum masuk ruang operasi saya diberi tiga butir pil warna putih ukuran sedang yang membuat saya akhirnya memilih berzikir dalam hati. Ranjang tempat saya tidur yang didorong pelan-pelan menuju ruang operasi, rasanya bagaikan roller coaster yang meluncur laju menuju meja operasi dan lalu disterilisasi dengan semacam antiseptik dan alkohol oleh dua orang suster. Sambil menunggu saya berfikir tentang kejutan terburuk yang akan terjadi dari pemeriksaan yang biayanya sekitar MR3100.00 ini sehingga mendorong saya terus berzikir sampai kurang lebih setengah jam sampai kemudian ketika Dr Nik masuk ruang operasi.
Melihat saya masih bangun, Dr Nik menyarankan saya tidur saja. Tapi karena malah banyak bertanya tentang proses pemeriksaan itu, sebaliknya dia malah menjelaskan secara ringkas prosesnya dan menganjurkan untuk sekalian ikut melihat ke TV monitor. Kemudian setelah menyebutkan bahwa akan sedikit pedih, dengan mengucapkan Basmallah dia menyuntikkan bius lokal di paha saya.

Selain rasa sakit ketika menyuntikkan bius itu, pemeriksaan yang berjalan hanya sekitar tiga puluh menit itu berjalan aman lancar. Saya dapat melihat bagimana dia menyorongkan selang biru muda dengan ukuran sekitar dua kali senar raket tennis ke dalam nadi paha saya kemudian muncul di dalam jantung tanpa saya merasa sakit atau tidak enak sama sekali. Dr Nik melalui selang itu menyemprotkan cairan tertentu ke dalam jantung dan mengamati alirannya sambil merubah-rubah posisi mata sensor serta memberikan penjelasan kapada saya. Jika ada penyempitan maka akan terlihat di monitor seperti yang ditunjuk dengan panah di gambar kiri ini (hasil orang lain sebagai contoh saja).
.
Alhamdulillah, Dr Nik menyalami saya dan menyampaikan rasa syukurnya bahwa tidak ada sama sekali penyumbatan atau penyempitan pembuluh dalam jantung saya. “Insya Allah bapak tidak perlu pemeriksaan seperti ini lagi dalam lima tahun ke depan. Tinggal jaga makan dan kesehatan saja,” ucapnya berlalu untuk menyiapkan laporan hasil pemeriksaan. Sedangkan nyeri dada itu kemungkinan besar karena kejang otot dada, sedangkan pitam itu masih harus didiagnosa lebih jauh. Namun dengan hospitality Dr Nik dan rekan kerjanya serta hasil kateter jantung itu membuat saya merasa jauh lebih sehat. Bagaimanapun, saya bersyukur kepada Allah yang memberikan jantung sehat.

Dengan rasa syukur itu, ringan saja rasanya menjalani bed rest untuk kaki kanan selama enam jam kemudian. Handphone saya minta kembali dan mulai menyusun redaksi kata-kata dan berita yang menggembirakan kepada isteri dan memasang niat untuk menulis pengalaman ini untuk berbagi pada orang lain yang mungkin perlu. Juga memasang tekad tetap akan mempertahankan pola hidup sehat yang sudah berlangsung selama ini. Jam 23.00 malam itu dengan rasa syukur saya kembali ke hotel saya yang berada di seberang rumah sakit itu. Allahuakbar.

Sumber gambar:
www.mimg.com/cardiology_faq.html (coronary angiogram)
http://www.thewellingtoncardiacservices.com/our-treatments.asp (coronary angiogram1)
wo-pub2.med.cornell.edu/cgi-bin/WebObjects/Pu... (angio2)
http://www.jeffersonhospital.org/kit/heartcare/article14488.html (penyempitan)