Dari berbagai kegiatan pembangunan yang kita lihat di jalan-jalan protokol Pekanbaru,
Ide, Pikiran, dan Pandangan Seorang Melayu Baru (Idea, Thought, and Vision of a New Malay to Share)
Dari berbagai kegiatan pembangunan yang kita lihat di jalan-jalan protokol Pekanbaru,
Kepemimpinan yang banyak berbicara tentang cara dan karakter seorang figur dalam berhubungan dengan lingkungan sosial dan kehidupannya, juga mempunyai satu komponen dasar yang tidak kalah penting: para pengikutnya. Seorang pemimpin akan exist kalau ada sikap kelompok orang yang menghormati, menauladani, dan mengikuti ajarannya dengan baik dan benar atau kita sebut sebagai kepengikutan. Karena itu dalam kepemimpinan, kepengikutan menjadi salah satu bahasan.
Kepengikutan juga dapat kita tinjau dengan pendekatan prophetic leadership dalam buku Pemimpin Istimewa Ala Rasulullah karya Imam Nawawi. Dalam melihat kepengikutan ini kita dapat mengacu pada banyak tuntunan yang berasal dari langit melalui contoh dari para Nabi (devine references). Yang paling sering dikutip sebagai pondasinya adalah firman Allah dalam Al-Quran Surah An-Nisa’ ayat 59:
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu…”
Bagi orang-orang yang beriman, wajib baginya selain menaati Allah dan Rasul juga menaati para pemimpin mereka. Ketaatan kepada Allah mendapat tempat tertinggi yang asasi dan merupakan sumber dari berbagai ketaatan lainnya. Beriman dan taat kepada Allah berarti mengakui keberadaan dan kekuasaanNya, mengikuti segala perintahNya, dan meninggalkan segala laranganNya. Elaborasi dan implementasinya telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang harus ditaati oleh orang beriman.
Sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim berbunyi: “Barangsiapa taat kepada saya, ia taat kepada Allah. Barangsiapa melawan saya, ia melawan Allah. Barangsiapa taat kepada pemimpin negara, sebenarnya ia menaati saya. Barangsiapa melawan pemimpin negara, sebenarnya ia melawan saya.
Selanjutnya, yang menjadi fokus tulisan singkat ini adalah perihal kepengikutan yang mengacu pada prophetic leadership. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menggambarkan bagaimana ketaatan atau kepengikutan pada pemimpin itu.
Abdullah bin Umar r.a. berkata: “Orang Islam wajib mendengarkan dengan patuh dan taat segala arahan pemimpin, baik perkara itu disukai maupun dibenci, kecuali apabila ia diperintahkan untuk melakukan maksiat. Apabila diperintahkan untuk melakukan maksiat, ia tidak boleh mematuhi perintah itu.”
Hadits ini menekankan bahwa wajib mematuhi pimpinan baik suka atau pun tidak, kecuali jika ia memerintahkan untuk melakukan kemusyrikan atau maksiat. Jika tidak, maka kita sudah ditunggu oleh sanksi sebagaimana dinyatakan dalam hadits riwayat Muslim berikut.
Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidak taat kepada penguasa, ia akan bertemu Allah pada Hari Kiamat nanti. Sementara pada saat itu ia tidak punya alasan untuk membela diri atas kesalahannya itu. Sesungguhnya, orang yang meninggal dunia sementara pada waktu itu ia tidak menaati pemimpin yang baik, ia akan mati dalam keadaan jahiliah, yaitu sesat.”
Kepengikutan itu juga tidak membedakan warna kulit seorang pemimpin. Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dengarlah dengan patuh dan taat, sekalipun pemimpin itu adalah hamba keturunan kulit hitam dan di kepalanya itu seakan-akan ada bintik hitam kecil-kecil.” Hadits ini tentu mengisyaratkan juga bahwa terhadap seorang pemimpin yang legitimate, kepengikutan itu mutlak.
Dalam hikayat Nabi Musa a.s. dengan pengikutnya bani Israil yang konflik dengan Fir’aun, terdapat pembelajaran tentang kepengikutan. Ketika lari dari kejaran Fir’aun dan lebih dari sejuta bala tentaranya, Nabi Musa dan sekitar 300 ribu bani Israil sampai ke pinggir Laut Merah sehingga banyak pengikutnya yang menjadi cemas dan mulai salah menyalahkan, termasuk pada Nabi Musa yang dianggap menyebabkan mereka akan dibantai pasukan Fir’aun. Nabi Musa yang berbuat berdasarkan tuntunan Allah tetap sangat yakin akan adanya jalan keluar dan menenangkan pengikutnya sambil menunggu petunjuk Allah.
Sementara pada saat kritis itu para pengikutnya mulai menghujat, dengan petunjuk Allah Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut yang menyebabkan air laut itu menyibak membentuk sebuah koridor jalan di dasar laut sehingga mereka bisa menyeberang. Bukannya bersyukur, sampai di seberang para pengikut Musa masih menghujat lagi karena kawatir tentara Fir’aun yang sedang ikut menyeberang di koridor itu akan menangkap mereka. Karena tidak istiqomah kepada pemimpin, mereka memaksa Musa untuk memukulkan lagi tongkatnya supaya laut bertaut kembali.
Musa tidak memukulkan tongkatnya karena kawatir ummatnya akan mempertuhankan tongkat itu, tetapi menyeru pertolongan kepada Allah yang menautkan kembali laut itu sehingga akhirnya Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam. Moral dari hikayat ini, kepengikutan antara lain menuntut kesetiaan berdasarkan tauhid (devine based loyality), rasa istiqomah bersama pemimpin meskipun berkonsekuensi nyawa, dan etika atau kesantunan pada pemimpin.
Akan tetapi kepengikutan itu juga dikawal oleh suatu prinsip-prinsip yang digambarkan oleh hadits berikut. Nasa’I meriwayatkan: ”….. pada suatu saat seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, ‘Jihad seperti apakah yang lebih utama?’ Nabi Muhammad menjawab, ‘Mengucapkan kalimat benar di hadapan pemimpin yang zalim.’”
Mengutip kesaksian Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dalam sebuah hadits (riwayat Abu Daud, Tirmizi, dan Nasa’i): “….. saya juga pernah mendengar Nabi Muhammad bersabda, ‘Percayalah, apabila manusia melihat kezaliman, tetapi mereka tidak bangun menentang kezaliman itu, Allah menurunkan siksa-Nya kepada semua manusia.’”
Demikian pentingnya kepengikutan ini sehingga mendapat tempat yang khusus dari Al-Quran dan hadits. Berdasarkan buku Imam Nawawi itu, dapat kita ringkaskan dan sarikan konsep kepengikutan terhadap para pemimpin yang legitimate sebagaimana disyariatkan, antara lain sebagai berikut:
1. Wajib taat pada pemimpin berdasarkan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW (devine based loyality).
2. Wajib mematuhi arahan pemimpin atas suatu perkara dan berusaha melaksanakannya dengan baik, terlepas dari perkara itu disuka atau tidak, dalam keadaan susah atau senang, rela atau terpaksa, bahkan meskipun akan merugikan kepentingan sendiri, dan dengan tetap bersikap santun (istiqomah).
3. Orang yang memecah-belah persatuan ummat akan mati dalam keadaan mati jahiliah, yaitu sesat.
4. Tidak wajib mengikuti pimpinan yang memerintahkan untuk berbuat kemusyrikan dan maksiat.
5. Kepengikutan tidak mengenal perbedaan ras, warna kulit, asal lapisan sosial sang pemimpin.
6. Memegang janji setia yang dilakukan dengan sepenuh hati kepada pemimpin dan membelanya jika ada yang mencoba merampas kekuasaan pemimpin itu.
7. Tetap mendengarkan dan taat terhadap pemimpin meskipun ia tidak memberikan hak-hak pengikut yang menjadi tanggungjawabnya; para pengikut bertanggungjawab pula terhadap apa yang diamanahkan dan minta lah hak-hak itu kepada Allah.
8. Bersabar terhadap tindakan yang dibenci dari pemimpin, apalagi dia masih sholat bersama-sama ummat; jika seseorang membantahnya walaupun sedikit maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.
9. Dilarang merendah-rendahkan pemimpin (negara) karena Allah akan merendahkan diri pelakunya itu.
10. Berani menyampaikan kebenaran sekalipun di hadapan pemimpin yang zalim dan bangun untuk menentangnya jika melihat suatu kezaliman (sebagai civic responsibility) karena jika tidak maka Allah akan menurunkan siksaNya kepada semua manusia.
Nah, konsep dan norma sudah tersedia. Sekarang bagaimana kita menyikapinya? Semoga kepengikutan ini dapat kita cermati untuk menghindarkan sanksi Ilahiah dan membawa kemaslahatan bagi negeri kita dan orang banyak. Insya Allah.
Saya juga berkeinginan untuk mengekspresikan rasa itu secara ikhlas dengan cara saya sendiri. Mengirimkan karangan bunga kepada beliau-beliau semua tentu tidak praktis dan mungkin kurang besar manfaatnya, bukan dalam arti pamrih agar mereka mencatat nama saya, karena tidak akan memberikan implikasi yang signifikan bagi orang ramai. Memasang iklan di media, selain akan makan biaya yang sangat mahal untuk manfaat yang juga kurang mengena pada kepentingan umum, bisa pula mendorong ke pamrih atau riya.
Sebagai gantinya saya akan “membingkiskan” dua buah buku kecil tentang kepemimpinan untuk pak SBY dan Budiono beserta para menteri dengan harapan mudah-mudahan isinya relevan dan bermanfaat bagi mereka sebagai para pemimpin yang telah dipercaya rakyat. Mereka adalah orang-orang yang punya reputasi dan teruji sudah dalam kancah politik, pemerintahan, profesi, ataupun kemasyarakatan kita namun demi makin mantapnya upaya mereka menjalankan tugas menyejahterakan bangsa kita, tidak ada salahnya kalau kado ini saya kirimkan sebagai bahan bacaan. Saya sebut buku kecil karena secara fisik kedua buku yang saya jumpai dengan tidak sengaja di toko buku ini memang kecil namun ternyata memuat sesuatu yang besar tentang kepemimpinan.
Kejadiannya bermula ketika saya penasaran dengan isu kepemimpinan (leadership) yang ketika itu menghangat dengan pelantikan presiden dan wakil presiden, munas partai, dan proses pemilihan para calon menteri. Rasa penasaran tentang leadership itu berkaitan dengan paradigma kepemimpinan, persepsi tentang jabatan, proses pemilihan, dan pelaksanaan dari yang diamanahkan. Berbagai pendapat dan komentar bersilang siur di berbagai media dari bermacam ragam orang sehingga tidak nampak lagi main stream dari kepemimpinan yang baik dan benar serta acuan yang dipakai. Karena itu, ketika saya melihat kedua buku ini waktu saya melintas di rak buku-buku agama di toko buku itu, langsung saya ambil.
Buku pertama merupakan kompilasi tentang nash Quran dan Hadits yang dilakukan oleh Imam Nawawi berdasarkan koleksi terpilih dari Kitab Riyadus Solihin. Berbagai ayat Quran dan Hadits Nabi (yang diriwayatkan oleh para perawi terpercaya) yang berkaitan dengan kepemimpinan menurut tuntunan syariah didedahkan sehingga dapat kita pakai dengan mudah. Banyak hal yang kita jumpai hari ini sudah diidentifikasi sejak zaman Nabi dulu dan diperlihatkan juga berbagai aspek yang relevan dengan kita hari ini.
Buku kedua berjudul PROPHETIC LEADERSHIP Kepemimpinan Para Nabi ditulis oleh Achyar Zein, seorang dosen IAIN Sumetera Utara yang sedang mengikuti pendidikan S3 di IAIN Ar-Raniry (mudah-mudahan beliau sekarang sudah selesai). Buku yang diterbitkan tahun 2008 ini memuat sejarah dan aspek kepemimpinan yang berkaitan dengan 25 orang nabi. Hikayat itu dikutip dari Quran melalui berbagai tafsir dan beberapa buku agama karangan para ulama Timur Tengah. Yang menarik, penulis dapat memberikan pencerahan dan pemahaman yang baik dan menarik serta mampu pula membuat berbagai interprestasi dan kajian implementatif yang sesuai dengan keadaan lokal kita di Indonesia.

Dalam masyarakat Melayu sangat lazim penggunanan peribahasa atau pepatah. Peribahasa adalah ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung pengertian tertentu, bidal, atau pepatah (Wikipedia). Insterumen pepatah ini digunakan untuk menyampaikan sesuatu kekurangan atau kelemahan secara tidak langsung agar tidak menjadi perselisihan atau tetap dapat menjaga tali silaturrahim.
Bagi sebagaian orang atau generasi sekarang cara ini mungkin dianggap kurang efisien atau bertele-tele namun kalau kita kembalikan ke martabat kemanusiaan, pendekatan social-budaya ini tentu masih sangat relevan. Ia akan dapat menghindarkan gesekan atau menekan eskalasi tensi antara para pihak yang berbeda pandangan tentang suatu hal. Cara-cara yang langsung dan lugas (straight forward) bisa jadi efektif namun akan menjadi bahan bakar pada pihak lain yang merasa dirugikan atau yang terpojok. Selain bahwa pepatah itu suatu instrumen pergaulan dalam peradaban, kunci lain adalah pemahaman awal (biasanya mentradisi) terhadap maksud dari masing-masing pepatah sehingga ketika kita mendengarnya sudah otomatis tahu konteks dan kemana arah percakapan orang yang menyampaikannya.
Pepatah kedua adalah: “Hidung tak mancung, pipi disorong-sorongkan.” Maksud pepatah ini adalah seseorang yang ternyata hidungnya tidak mancung sebagai salah satu lambang kegagahan atau kecantikan tapi mencoba menggantikannya dengan pipi yang fungsinya tentu berbeda. Agak sejalan dengan yang pertama, pepatah ini menggambarkan orang yang memaksakan kehendak agar diterima sebagai menantu, dalam jabatan tertentu, atau pemimpin sementara orang tahu ada kekurangannya sehingga tidak dipilih.
Sebenarnya ada banyak lagi peribahasa atau pepatah yang senada dengan keduanya, seperti: ”Kaki yang pincang, dikatakan lantai berjungkat” dan ” Tak lalu dandang di air, di gurun ditanjakkan juga” (dandang = perahu, pen). Sebaliknya, yang tidak akan kita kaji pada kesempatan ini, juga terdapat beberapa pepatah yang mengajarkan kearifan, kerendahan hati, dan sikap kesatria dan mau mengintrospeksi diri dalam tradisi Melayu.
Sebuah koran ibukota terbitan Jumat 3 Juli 2009 memuat berita tentang tertangkapnya 10 orang joki yang diduga mempunyai jaringan nasional. Jika berita ini dibaca ketika zaman pacuan kuda Pulomas Jakarta atau Bukit Ambacang Bukittinggi masih aktif, orang tentu akan bertanya-tanya: terlibat kasus apakah 10 anak pacuan kuda itu?
Joki memang orang yang profesinya menunggang kuda dalam pacuan. Supaya ringan, biasanya dipilih yang masih anak-anak atau tubuhnya relatif kecil tetapi sangat pintar mengendalikan kuda. Bukan supaya baik jalannya seperti dalam lagu Naik Delman itu tapi supaya kencang dan unggul mencapai garis finish dibanding kuda lainnya.
Joki yang dimaksud dalam berita itu bukan anak pacuan atau si penunggang kuda karena sedang tidak ada kegiatan pacu kuda. Penangkapan itu dalam konteks ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Makassar. Joki adalah seseorang yang ikut ujian itu untuk menuntun orang atau calon lain dengan berbagai cara supaya lulus untuk masuk perguruan tinggi favorit pilihannya yang tingkat peluangnya kecil.
Jadi, calon itu dengan sedikit “maksa” ingin diterima di fakultas pilihannya di suatu perguruan tinggi favorit. Karena kemampuan akademiknya sebenarnya tidak memadai atau karena kurang rasa percaya diri, dia cenderung mencari jalan pintas dengan bantuan seseorang dalam ujian itu. Orang yang biasanya pintar dalam mata-ujian mata-ujian itu lah yang disebut joki yang melakukan itu dengan imbalan. Diantara kedua pihak sudah membuat komitmen sejak awal tentang trik bagaimana mendapatkan tempat yang berdekatan dan cara berinteraksi dalam ruang ujian serta apa imbalannya.
Bukan untuk maksud “mengajarkan” cara kotor ini (“jangan ditiru,” pesan acara-acara demonstratif-akrobatis yang berbahaya), dapat kita duga bahwa trik yang dijalankan sangat beragam yang kadang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebagaimana yang dilaporkan koran itu, sang joki memberikan jawaban soal kepada kliennya. Jaringan joki di Makasar ternyata terdiri dari 10 orang (1 orang mahasiswa Unhas dan 9 mahasiswa ITB!!!) dengan 6 orang klien yang dikoordinasikan oleh seorang sarjana kedokteran Unhas. Para pengguna jasa joki itu akan membayar Rp 135 juta jika nanti lulus SNMPTN.
Sementara itu dilaporkan pula di Bandung, ada dua peserta SNMPTN yang melakukan kecurangan dengan alat komunikasi canggih berupa microchip mini seukuran kurang dari koin Rp 100. Panitia juga menyita dua telepon seluler, transmitter, dan kabel yang berwarna seperti kulit manusia. Karena itu panitia SNMPTN lokal Bandung menduga masih ada 13 orang pelaku lain yang terkait ke jaringan organisasi nasional.
Mencermati trik-trik yang dipakai, penggunaan joki ini bisa saja dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab pada berbagai taraf dan jenis pendidikan. Dengan berbagai trik, joki bisa beroperasi pada tes masuk SMU atau masuk jenjang S2 dan S3. Bisa pula terjadi pada tes bahasa seperti TOEFL, seleksi pendidikan penjenjangan karir PNS, atau ujian sertifikasi profesi. Semuanya tentu kembali pada nurani dan moral para joki dan pelakunya.
Manusia adalah ciptaan terbaik di muka bumi. Secara fisik ia memiliki tubuh yang paling lengkap dan sempurna. Yang lebih istimewa dari manusia adalah karena ia berakal-budi.
Berakal maksudnya manusia itu bisa berfikir, memahami, berinisiatif, menilai, berkarya, dan membedakan. Artinya manusia itu merdeka atau punya kebebasan untuk memilih mana yang baik dan buruk, antara yang putih dan hitam, serta antara yang bermanfaat dan sia-sia. Namun selain mengacu pada akal, gerak langkah manusia dikawal pula oleh rasa yang menurunkan budi. Budi adalah kesepakatan-kesepakatan tentang pilihan manusia akan sesuatu berdasarkan suatu keyakinan, misalnya norma hukum, sosial atau agama.
Pilihan-pilihan manusia sebagai makhluk sosial atau berkelompok, tidak bisa hanya berdasarkan saringan akal atau karena keinginan tapi harus pula mengacu pada budi tadi. Makin jauh dari budi maka makin kurang berharga secara sosial; makin dekat dan mengikuti nilai-nilai budi maka manusia itu akan makin dihargai oleh kelompoknya. Disini lah manusia berbeda dengan makhluk lainnya; manusia memiliki martabat atau marwah.
Karena itu meskipun merdeka, pilihan atau tindakan manusia harus berdasarkan pada suatu keinginan yang etis dan komit pada budi tadi. Dalam bahasa agama disebutkan bahwa nawaitu atau niatnya haruslah ikhlas dalam rangka mengabdi pada dan merelasikan diri dengan Sang Khalik, sesuai dengan misi penciptaan manusia. Selain niat, pilihan itu selain akan bermanfaat buat diri sendiri tentu juga buat orang lain sehingga akan menaikkan martabat si manusia. Yang terbaik secara falsafi adalah bila Suatu tindakan atau kebijakan membawa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang (the greatest good for the the greatest number).
Hari ini kita melihat banyak tingkah orang yang berada di luar koridor itu, kalau tidak mau menyebut sebagai orang banyak tingkah. Terlepas dari niat yang memang sulit kita ketahui, banyak orang yang dengan tanpa sungkan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan marwah dirinya sendiri. Pekerjaan atau keberhasilan orang lain bisa diakui sebagai karyanya, pekerjaan ramai-ramai dikatakan sebagai hasil kerjanya sendiri. Ada pula yang mau menghalalkan segala cara demi keberhasilan lahiriah meskipun orang tetap tahu bahwa itu hanya tingkah akrobatis atau artifisial semata.
Dalam konteks hari-hari ini, orang bahkan bukan hanya tak peduli pada marwah dirinya tapi malah meruntuhkan marwah kemanusiaan itu. Marwah manusia yang melekat ke akal-budi tadi, dengan mudah dikikis dengan pamrih atau berbagai kepentingan sesaat yang bermuatan politis, popularitas, atau dagang. Banyak tokoh tanpa sungkan membagi-bagi sembako atau paket bantuan kepada orang-orang tak mampu untuk menarik simpati dan suara pemilih, meskipun sebelumnya tidak pernah peduli pada kesusahan orang lain. Dengan maksud yang sama, ada pula orang yang tanpa beban menghamburkan janji-janji yang tidak rasional dan tidak realistis, padahal meskipun sebelumnya mampu tapi dia tidak berbuat banyak sebagaimana janjinya itu. Tidak kurang pula orang yang tanpa malu-malu mengkritisi kekurangan suatu sistem yang dia sendiri ada dan punya peran dalam sistem itu.
(klik "komentar" pada akhir tulisan masing-masing)