17 Oktober 2009

Pengalaman Kecelakaan Mobil (1)

Pengalaman kecelakaan mobil pernah saya alami tiga kali; pertama ketika mengemudikan dan yang dua kalinya ketika menjadi penumpang. Alhamdulillah, dengan kuasa Allah saya terhindar dari cedera yang berarti dalam kedua kejadian itu.

Ketika masih bekerja di sebuah kontraktor di Jakarta tahun 1984, saya bersama beberapa young engineers difasilitasi kendaraan operasional “kijang kotak” station yang multifungsi, sebagai “mobil dinas”, angkutan staf/pekerja, ataupun beli material yang kecil-kecil. Karena jumlah supir terbatas, saya yang sering jadi pengemudi ketika pergi bersama rekan-rekan kerja lainnya. Maklum, saya baru masuk di kantor itu.

Sebagai fresh graduate dan sesuai dengan usia, masih banyak kebanggan diri; mengemudikan kendaraan juga masih senang menginjak pedal gas dari pada rem. Di jalan tol Jagorawi, kijang kotak itu bisa lari sampai 120 km/jam, apalagi kalau para staf yang menumpang di belakang makin memberi semangat. Biasanya, rekan saya yang duduk disebelah yang mulai bergumam namun tidak jelas karena desis angin dan suara kendaraan lain dari jalur berlawanan yang masuk dari jendela yang terbuka sebagian. Pokoknya lebih seru dari mikrolet…!

Suatu kali sekitar jam 15.00, kami lewat di sebuah jalan kecil di daerah belakang Taman Mini dalam keadaan hujan kecil. Jalan dua arah itu sempit dengan bahu jalan yang rendah karena tergerus air dan aspal dalam keadaan basah. Sebagai jalan tembus, jalan itu ramai, termasuk sepeda motor dan juga menjadi rute Metro Mini.

Pada suatu segmen yang lurus, kami berpapasan dengan sebuah Metro Mini yang seperti biasa sedang “kejar setoran”. Sebenarnya pada bagian yang lurus jalan itu sangat pas untuk berpapasan jika masing-masing kendaraan berada pada posisi yang tepat. Akan tetapi si mikrobis oranye tidak peduli yang membuat saya harus mengalah lebih ke pinggir sehingga ban mobil kami jatuh ke bahu yang rendah itu. Karena juga dalam kecepatan sekitar 60 km/jam, tepat sesaat habis berpapasan, “mikrolet” kami melintir ke arah belakang kembali dan menabrak pohon di seberang jalan. Anehnya mobil tidak terguling; hanya remuk pas di tengah-tengah bagian depan yang merusakkan radiatornya. It costed me about a month of my wage. Alhamdulillah, kami tidak cedera sedikit pun dan biaya itu akhirnya ditanggung oleh perusahaan karena kami memang sedang pergi tugas. Bagaimana pun, timbul juga rasa sesal; karena menegakkan ego, keselamatan dipertaruhkan. Sejak saat itu, saya lebih memilih mengalah ketika mengemudi karena nampaknya jalan-jalan kita (makin) banyak dipenuhi oleh orang-orang nekad.

Moral cerita: Kebanggan diri (ego) ketika muda dan penuh keberhasilan kadang bisa membuat kita lupa pada keberadaan dan kepentingan pihak atau orang lain, bahkan pada keselamatan diri dan orang banyak. Sayangnya kesadaran itu sering datang terlambat, ketika kecelakaan itu sudah terlanjur menimbulkan kerugian jiwa, tubuh, atau harta benda. Bagi kita yang masih dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, ketika mengemudi, mari lebih mengutamakan keselamatan dari pada ego, apalagi jika sedang bersama orang-orang yang kita sayangi. Tapi bagaimanakah memberikan pengertian ini pada mereka yang masih “menggelegak” tanpa harus ada korban lagi?

09 Oktober 2009

Pengalaman Terhindar dari Bencana (1)

Tidak ada seorang pun dari kita yang ingin mengalami bencana. Disebut bencana karena selain memberi beban psikis, secara lahiriah senantiasa membawa kesulitan atau kesusahan, sejak dari kerugian harta benda sampai ke kehilangan jiwa. Karena itu jika kita lolos dari suatu bencana merupakan suatu pengalaman yang luar biasa berharga yang perlu dan Insya Allah bermanfaat untuk diceritakan kembali.

Sampai hari ini, saya sudah pernah mengalami beberapa kali selamat dari bencana. Semua pengalaman itu selain menuntut kerugian materil sebenarnya juga mengancam jiwa dan raga. Alhamdulillah, berkat Rahman dan RahimNya, saya selamat dari dari kejadian-kejadian itu.

Pengalaman pertama saya terkait ke suatu bencana adalah ketika terhindar dari penerbangan maut Garuda GIA 152 Jakarta-Medan tanggal 26 September 1997. Saat itu sedang puncak-puncaknya gangguan kabut di Indonesia bagian Barat sehingga aktivitas penerbangan banyak yang terganggu, termasuk bandar udara Sultan Syarif Kasim II (SSK II) Pekanbaru tidak bisa melayani penerbangan.

Ketika itu saya dan beberapa kolega mengikuti Konferensi Regional Teknik Jalan (KRTJ) ke 5 di Yogyakarta tanggal 22-24 September 1997. Setelah sampai di Yogyakarta, karena bandara SSK II sudah tidak bisa didarati akibat kabut asap yang sangat tebal maka kami dengan segera merubah tiket pulang dari Jakarta ke Pekanbaru menjadi ke Medan yang masih bisa melayani penerbangan dengan maksud berikutnya akan menggunakan jalur darat ke Pekanbaru. Semula semua berencana untuk berhenti dan menginap dulu sehari di Jakarta sambil menunggu kemungkinan terbukanya kembali penerbangan ke Pekanbaru atau jika tetap tidak memungkinkan baru pulang melalui Medan pada tanggal 26 September.

Akan tetapi ketika memesan tiket di biro perjalanan yang ada di hotel, dengan kuasa Allah Swt, semua kami sepakat untuk langsung saja dari Yogyakarta ke Medan tanggal 25 September. Karena itu kami membatalkan penerbangan Jakarta ke Medan dengan flight GIA 152 tanggal 26 September yang sudah kami pesan beberapa saat sebelumnya dan menggantinya dengan connecting flight dari Yogyakarta tanggal 25 September.

Sesampainya di Medan kami menyempatkan olahraga di padang golf Tuntungan, daerah perbukitan ke arah Sibolangit, sebelum kembali ke Pekanbaru. Waktu di Tuntungan, di salah satu hole menjelang selesai, secara pribadi saya memang mendengar suara aneh; seperti mesin yang meraung dan tiba-tiba mati. Ketika saya konfirmasi kepada teman-teman lain, tidak ada yang mendengar dengan jelas sehingga kami semua lupa dengan suara aneh itu sampai berangkat menuju Medan kembali.

Keheranan itu kembali muncul ketika kami melintas dekat ujung landasan Polonia, Medan. Bandara kelihatan ekstra sibuk kemuadia dapat kabar bandara ditutup karena ada pesawat yang jatuh. Ketika di perjalanan dari Medan ke Pekanbaru, di sekitar Tebing Tinggi akhirnya kami mendapat kabar tentang jatuhnya pesawat Airbus A300-B4 Garuda Flight GIA 152 itu yang rencana semula akan kami tumpangi itu di Desa Buah Nabar, Sibolangit, Deli Serdang yang jaraknya sekitar 32 km dari bandara Polonia. Kecelakaan yang memakan 234 orang korban ini diduga akibat pendeknya jarak pandang karena gangguan asap sehingga pesawat menabrak tebing di pegunungan.

Dengan rasa campur aduk antara bersyukur telah terhindar dari bencana maut dan dukacita yang mendalam, di perjalanan kami berkomunikasi dengan keluarga masing-masing yang cemas serta terus memantau dan nama-nama korban yang kami kenal karena memang jalur penerbangan melalui Medan adalah cara yang paling laik untuk ke Pekanbaru. Selain itu, diantara para korban, banyak kolega-kolega kami termasuk para peserta KRTJ ke 5 dari Aceh dan Sumut sebagaimana terlihat dari berserakannya tas gift peserta KRTJ itu dalam liputan-liputan berita TV. Beberapa diantaranya kami kenal secara langsung!!! Naudzubillahi.

Memang, jika belum waktunya ajal kita atau sakit, dan cedera, ada saja sebab yang menghindarkan kita. Kadang-kadang hal itu sangat tidak rasional dan tidak logis sehingga kita sering jadi tidak sabar atau bahkan menggerutu menerima suatu keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita semula. Ketika itu, yang saya ketahui kemudian, ada beberapa orang kolega yang kecewa tidak jadi berangkat dengan pesawat naas itu karena telat, tidak dapat tiket, dan bahkan kena kensel. Sebaliknya, sepasang suami-isteri kolega kerja yang menetap di Jakarta, ikut jadi korban setelah melalui pemilihan mereka memenangkan dua tiket yang disediakan sebuah keluarga yang akan menyelenggarakan hajat di Medan, mewakili teman-temanya se kantor. Setelah kejadian kita baru melihat mana baik dan mana buruk yang mungkin juga berbeda pada orong per orang. Yang selamat belum tentu baik sedangkan yang menjadi korban belum tentu pula tidak baik. Wallahu alam, hanya Allah lah yang tahu.

Karena itu lah kita harus tetap berbaik sangka (husnuzhon) pada Allah karena kita tidak tahu apa yang ada di balik suatu hal atau keadaan yang sekalipun kita rasakan pahit. Bencana harus kita baca sebagai peringatan atas kekurangan kita dan agar segera memperbaiki diri.

Hikmahnya dalam kehidupan, pertama, sekarang tiap kali naik pesawat saya pasrah saja sambil berdoa kepada Allah mengharapkan perlindungan dan keselamatan. Kedua, ketika boarding saya selalu mengirim sms kepada keluarga, misalnya: “Boarding now on Garuda GA 171 leaving for Jakarta.” Semoga Allah menghindarkan kita semua dari segala bencana.
Masjid Jami’ Air Tiris merupakan salah satu objek wisata Provinsi Riau yang jangan sampai terlewatkan. Masjid antik ini terletak di Pasar Usang, Desa Tanjung Berulak, Air Tiris, Kabupaten Kampar, sekitar 52 km dari Pekanbaru. Meskipun terletak agak ke dalam dari jalan Pekanbaru-Bangkinang namun masjid yang mempunyai keunikan tersendiri bisa dicapai langsung dengan kendaraan darat melalui jalan aspal yang mulus.

Masjid ini didirikan tahun 1901 atas prakarsa Engku Mudo Sangkal, seorang ulama yang mengonsolidasikan potensi ninik-mamak dan cerdik-pandai dari 20 kampung di kenegerian Air Tiris. Sebagai panitia pembangunannya adalah yang disebut dengan “Ninik Mamak Nan Dua Belas” yaitu para ninik-mamak dari berbagai suku yang ada dalam seluruh kampung. Mereka mengerjakannya bersama anak kemenakan, termasuk tukang dari Trengganu, Malaysia, yang membuat mimbar yang dikerjakannya di Singapura. Tahun 1904 masjid ini selesai yang diresmikan dengan meriah oleh seluruh masyarakat Air Tiris dengan menyembelih 10 ekor kerbau.

Bentuk masjid ini konon merupakan campuran arsitektur “Rumah Lentik” Melayu Kampar dan Cina. Masjid dengan bahan konstruksi utama kayu ini terdiri dari bangunan induk yang ukuran aslinya 30X40 m, mihrab 7X5 m, menara, dengan tinggi bangunan 24 m, serta dilengkapi dengan 2 mimbar, 1 buah telaga, dan 3 buah kulah air. Atapnya berupa limas tiga tingkat yang meruncing ke atas dengan tiang dan konstruksi kayu yang masih asli terlihat sangat indah. Demikian pula dindingnya yang miring, penuh dengan ornamen atau ukiran yang mirip dengan ukiran yang terdapat di dalam sebuah masjid di Pahang, Malaysia. Engku Mudo Sangkal juga menukilkan ukiran di depan mimbar dan pada dua tonggak panjang dalam masjid masing-masing basmallah dan dua kalimah syahadat.

Keunikan lainnya, pemasangan komponen bangunannya tidak menggunakan paku dari besi tapi dengan teknik lidah dan pasak yang juga dari kayu. Pada keadaan aslinya dulu, atapnya pun berupa kepingan-kepingan papan kayu tetangu yang tahan berhujan panas dengan panjang 1 meter. Pada tahun 1971 dilakukan rehabilitasi bagian-bagian masjid yang sudah lapuk sehingga hari ini masih berdiri dengan megahnya dan banyak dikunjungi penziarah.

Sangat disayangkan, ada hal yang kurang pas pada properti masjid ini. Di dalam salah satu kulah air itu terdapat sebuah batu alam yang besar dan bentuknya seperti kepala kerbau tanpa tanduk dan telinga. Konon batu itu bisa berpindah posisi dalam kulah itu dengan sendirinya sehingga dikeramatkan yang mempercayainya. Para penziarah yang banyak datang pada hari raya puasa enam, bukannya mengagumi keindahan bangunan kayu hasil karya arsitektur yang sudah berumur 108 tahun itu atau mengambil kesempatan untuk sholat sunnah di dalam masjid itu, malah banyak yang lebih mementingkan untuk menziarahi “kepala kerbau” itu. Mencuci muka atau tangan dengan air dari kulah itu dipercaya dapat memberi berkah. Tidak heran jika pihak Departemen Agama tidak memasukkan “kepala kerbau” ini dalam info tentang masjid ini. Karena itu kita pun tentu harus hati-hati agar tidak terjerumus ke dalam syirik.

Hal kedua yang masih perlu ditingkatkan adalah pengelolaan Masjid Jami’ sebagai objek wisata yang potensial. Jaraknya yang dekat dengan Pekanbaru dan dapat dikombinasikan dengan wisata kuliner dan Kampung Asli Pulau Belimbing di Kuok tentu sangat potensial sehingga harus dikelola secara lebih baik dan profesional. Dengan infrastruktur jalan yang sudah memadai, seyogyanya objek itu dilengkapi dengan publikasi yang lengkap, tanda dan penunjuk arah yang jelas, penataan kawasan sekitar yang sesuai untuk dikunjungi wisman, informasi yang tersedia dan lengkap, pemandu wisatak, dan aspek-aspek penunjang objek wisata lainnya.

Tentunya peningkatan dan pengelolaan ini harus dilakukan secara, konsepsional, komprehensif, dan efektif dengan mengikutsertakan semua pemangku kepentingan yang ada. Mudah-mudahan langkah itu akan membuat makin banyak orang berziarah sepanjang tahun sehingga membawa kemaslahatan pada masyarakat setempat khususnya, Provinsi Riau umumnya. Amin.

09 Juli 2009

Pepatah

Dalam masyarakat Melayu sangat lazim penggunanan peribahasa atau pepatah. Peribahasa adalah ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung pengertian tertentu, bidal, atau pepatah (Wikipedia). Insterumen pepatah ini digunakan untuk menyampaikan sesuatu kekurangan atau kelemahan secara tidak langsung agar tidak menjadi perselisihan atau tetap dapat menjaga tali silaturrahim.


Bagi sebagaian orang atau generasi sekarang cara ini mungkin dianggap kurang efisien atau bertele-tele namun kalau kita kembalikan ke martabat kemanusiaan, pendekatan social-budaya ini tentu masih sangat relevan. Ia akan dapat menghindarkan gesekan atau menekan eskalasi tensi antara para pihak yang berbeda pandangan tentang suatu hal. Cara-cara yang langsung dan lugas (straight forward) bisa jadi efektif namun akan menjadi bahan bakar pada pihak lain yang merasa dirugikan atau yang terpojok. Selain bahwa pepatah itu suatu instrumen pergaulan dalam peradaban, kunci lain adalah pemahaman awal (biasanya mentradisi) terhadap maksud dari masing-masing pepatah sehingga ketika kita mendengarnya sudah otomatis tahu konteks dan kemana arah percakapan orang yang menyampaikannya.


Ada dua pepatah yang dapat dijadikan contoh pada era pemilihan langsung hari ini. Pertama, “Buruk muka, cermin dibelah”; maksudnya seseorang yang ketika bercermin melihat mukanya yang buruk atau tidak sesuai keinginannya lantas karena marah memecahkan cermin itu. Maknanya adalah orang yang tidak mau mengakui kekurangan diri sendiri tapi lebih cenderung mempermasalahkan dan menyalahkan orang lain. Terlepas dari kekurangan orang lain itu, secara akal-budi dan kemanusiaan yang bermartabat seyogyanya kita lebih melihat kekurangan dan kelemahan diri sendiri agar bisa melakukan koreksi terlebih dahulu. Akan jadi kontroversi jika kelemahan kita lebih besar dari kelemahan orang lain yang kita kritisi.


Pepatah kedua adalah: “Hidung tak mancung, pipi disorong-sorongkan.” Maksud pepatah ini adalah seseorang yang ternyata hidungnya tidak mancung sebagai salah satu lambang kegagahan atau kecantikan tapi mencoba menggantikannya dengan pipi yang fungsinya tentu berbeda. Agak sejalan dengan yang pertama, pepatah ini menggambarkan orang yang memaksakan kehendak agar diterima sebagai menantu, dalam jabatan tertentu, atau pemimpin sementara orang tahu ada kekurangannya sehingga tidak dipilih.


Sebenarnya ada banyak lagi peribahasa atau pepatah yang senada dengan keduanya, seperti: ”Kaki yang pincang, dikatakan lantai berjungkat” dan ” Tak lalu dandang di air, di gurun ditanjakkan juga” (dandang = perahu, pen). Sebaliknya, yang tidak akan kita kaji pada kesempatan ini, juga terdapat beberapa pepatah yang mengajarkan kearifan, kerendahan hati, dan sikap kesatria dan mau mengintrospeksi diri dalam tradisi Melayu.


Tunjuk ajar Melayu ini tentu lahir dari tradisi kehidupan yang sudah teruji dan disepakati.
Karena itu sudah sepatutnya kita simak kearifan yang diusungnya. Mudah-mudahan kita termasuk pada orang yang mau menyimak kaearifan itu.

04 Juli 2009

J o k i

Sebuah koran ibukota terbitan Jumat 3 Juli 2009 memuat berita tentang tertangkapnya 10 orang joki yang diduga mempunyai jaringan nasional. Jika berita ini dibaca ketika zaman pacuan kuda Pulomas Jakarta atau Bukit Ambacang Bukittinggi masih aktif, orang tentu akan bertanya-tanya: terlibat kasus apakah 10 anak pacuan kuda itu?

Joki memang orang yang profesinya menunggang kuda dalam pacuan. Supaya ringan, biasanya dipilih yang masih anak-anak atau tubuhnya relatif kecil tetapi sangat pintar mengendalikan kuda. Bukan supaya baik jalannya seperti dalam lagu Naik Delman itu tapi supaya kencang dan unggul mencapai garis finish dibanding kuda lainnya.

Joki yang dimaksud dalam berita itu bukan anak pacuan atau si penunggang kuda karena sedang tidak ada kegiatan pacu kuda. Penangkapan itu dalam konteks ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Makassar. Joki adalah seseorang yang ikut ujian itu untuk menuntun orang atau calon lain dengan berbagai cara supaya lulus untuk masuk perguruan tinggi favorit pilihannya yang tingkat peluangnya kecil.

Jadi, calon itu dengan sedikit “maksa” ingin diterima di fakultas pilihannya di suatu perguruan tinggi favorit. Karena kemampuan akademiknya sebenarnya tidak memadai atau karena kurang rasa percaya diri, dia cenderung mencari jalan pintas dengan bantuan seseorang dalam ujian itu. Orang yang biasanya pintar dalam mata-ujian mata-ujian itu lah yang disebut joki yang melakukan itu dengan imbalan. Diantara kedua pihak sudah membuat komitmen sejak awal tentang trik bagaimana mendapatkan tempat yang berdekatan dan cara berinteraksi dalam ruang ujian serta apa imbalannya.

Bukan untuk maksud “mengajarkan” cara kotor ini (“jangan ditiru,” pesan acara-acara demonstratif-akrobatis yang berbahaya), dapat kita duga bahwa trik yang dijalankan sangat beragam yang kadang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebagaimana yang dilaporkan koran itu, sang joki memberikan jawaban soal kepada kliennya. Jaringan joki di Makasar ternyata terdiri dari 10 orang (1 orang mahasiswa Unhas dan 9 mahasiswa ITB!!!) dengan 6 orang klien yang dikoordinasikan oleh seorang sarjana kedokteran Unhas. Para pengguna jasa joki itu akan membayar Rp 135 juta jika nanti lulus SNMPTN.

Sementara itu dilaporkan pula di Bandung, ada dua peserta SNMPTN yang melakukan kecurangan dengan alat komunikasi canggih berupa microchip mini seukuran kurang dari koin Rp 100. Panitia juga menyita dua telepon seluler, transmitter, dan kabel yang berwarna seperti kulit manusia. Karena itu panitia SNMPTN lokal Bandung menduga masih ada 13 orang pelaku lain yang terkait ke jaringan organisasi nasional.

Mencermati trik-trik yang dipakai, penggunaan joki ini bisa saja dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab pada berbagai taraf dan jenis pendidikan. Dengan berbagai trik, joki bisa beroperasi pada tes masuk SMU atau masuk jenjang S2 dan S3. Bisa pula terjadi pada tes bahasa seperti TOEFL, seleksi pendidikan penjenjangan karir PNS, atau ujian sertifikasi profesi. Semuanya tentu kembali pada nurani dan moral para joki dan pelakunya.

Terlepas dari masalah moral, seseorang yang “berhasil mengelabui diri sendiri” itu belum tentu akan bisa berhasil dalam proses belajarnya. Sewaktu-waktu bisa muncul dari nuraninya rasa malu atau bersalah telah menempuh jalan serong itu, apalagi jika dia menemui hambatan atau kegagalan secara parsial. Jika pun lolos dari jerat hukum dan berhasil lulus, mungkin dengan nilai yang pas-pasan, rasa bersalah atau tidak percaya diri yang baru akan muncul lagi ketika menghadapi realita kehidupan di lapangan yang sering tidak mudah. Sebenarnya, antara atribut yang didapat dengan cara yang berbau off-side atau semu dan harkat kemanusiaan, manakah yang lebih berharga bagi para pelaku ini?

01 Juli 2009

M a r w a h

Manusia adalah ciptaan terbaik di muka bumi. Secara fisik ia memiliki tubuh yang paling lengkap dan sempurna. Yang lebih istimewa dari manusia adalah karena ia berakal-budi.


Berakal maksudnya manusia itu bisa berfikir, memahami, berinisiatif, menilai, berkarya, dan membedakan. Artinya manusia itu merdeka atau punya kebebasan untuk memilih mana yang baik dan buruk, antara yang putih dan hitam, serta antara yang bermanfaat dan sia-sia. Namun selain mengacu pada akal, gerak langkah manusia dikawal pula oleh rasa yang menurunkan budi. Budi adalah kesepakatan-kesepakatan tentang pilihan manusia akan sesuatu berdasarkan suatu keyakinan, misalnya norma hukum, sosial atau agama.


Pilihan-pilihan manusia sebagai makhluk sosial atau berkelompok, tidak bisa hanya berdasarkan saringan akal atau karena keinginan tapi harus pula mengacu pada budi tadi. Makin jauh dari budi maka makin kurang berharga secara sosial; makin dekat dan mengikuti nilai-nilai budi maka manusia itu akan makin dihargai oleh kelompoknya. Disini lah manusia berbeda dengan makhluk lainnya; manusia memiliki martabat atau marwah.


Karena itu meskipun merdeka, pilihan atau tindakan manusia harus berdasarkan pada suatu keinginan yang etis dan komit pada budi tadi. Dalam bahasa agama disebutkan bahwa nawaitu atau niatnya haruslah ikhlas dalam rangka mengabdi pada dan merelasikan diri dengan Sang Khalik, sesuai dengan misi penciptaan manusia. Selain niat, pilihan itu selain akan bermanfaat buat diri sendiri tentu juga buat orang lain sehingga akan menaikkan martabat si manusia. Yang terbaik secara falsafi adalah bila Suatu tindakan atau kebijakan membawa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang (the greatest good for the the greatest number).


Hari ini kita melihat banyak tingkah orang yang berada di luar koridor itu, kalau tidak mau menyebut sebagai orang banyak tingkah. Terlepas dari niat yang memang sulit kita ketahui, banyak orang yang dengan tanpa sungkan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan marwah dirinya sendiri. Pekerjaan atau keberhasilan orang lain bisa diakui sebagai karyanya, pekerjaan ramai-ramai dikatakan sebagai hasil kerjanya sendiri. Ada pula yang mau menghalalkan segala cara demi keberhasilan lahiriah meskipun orang tetap tahu bahwa itu hanya tingkah akrobatis atau artifisial semata.


Dalam konteks hari-hari ini, orang bahkan bukan hanya tak peduli pada marwah dirinya tapi malah meruntuhkan marwah kemanusiaan itu. Marwah manusia yang melekat ke akal-budi tadi, dengan mudah dikikis dengan pamrih atau berbagai kepentingan sesaat yang bermuatan politis, popularitas, atau dagang. Banyak tokoh tanpa sungkan membagi-bagi sembako atau paket bantuan kepada orang-orang tak mampu untuk menarik simpati dan suara pemilih, meskipun sebelumnya tidak pernah peduli pada kesusahan orang lain. Dengan maksud yang sama, ada pula orang yang tanpa beban menghamburkan janji-janji yang tidak rasional dan tidak realistis, padahal meskipun sebelumnya mampu tapi dia tidak berbuat banyak sebagaimana janjinya itu. Tidak kurang pula orang yang tanpa malu-malu mengkritisi kekurangan suatu sistem yang dia sendiri ada dan punya peran dalam sistem itu.

Hal ini terjadi karena kita kurang berpegang kuat pada akal budi yang sudah dikaruniakan pada manusia. Kita terkesima pada gemerincing mata uang, silau dengan gemerlapnya harta benda, dan menyembah kekuasaan.

Tanpa perlu tahu niatnya pun kita bisa melihat banyak orang menghamba pada hal-hal yang temporer dan artifisial sehingga tampak hampa dan tak bermarwah. Mestinya segala gerak langkah kita dimulai dengat niat yang baik dan bersifat hakiki atau substansial yang bersumber dari akal-budi tadi. Akal-budi juga kita gunakan untuk mendapatkan kesuksesan dalam hal apapun secara lebih bermarwah. Di tengah derasnya arus materialistik-hedonistik-sekularistik yang mengglobal hari ini, mampukah kita merefleksikan akal-budi yang menjunjung marwah kemanusiaan itu pada diri kita masing-masing?

03 Mei 2009

T o k o h

Tokoh adalah wujud dari kompetensi dan pengakuan. Seorang tokoh adalah seseorang yang kompeten dan menonjol dalam pencapaian hasil dalam suatu bidang yang diakui oleh orang-orang di dalamnya atau yang mengenal itu dengan baik. Karena itu, seorang tokoh sangat berpengaruh dan akan didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, atau dalam bahasa awam dituakan dalam kelompoknya.

Meskipun belum tentu tua secara umur, sang tokoh akan lebih dihormati dan jadi panutan ketika capaiannya lebih menonjol sehingga makin dikelilingi oleh para pengagum dan pengikutnya. Pada keadaan itu, pengaruh dan popularitasnya merambat ke luar lingkungan gerak langkahnya hingga tanpa peduli bidangnya jadilah ia sebuah lambang atau representasi dari kelompoknya. Tidak heran jika kita mendengar keberadaan tokoh dari berbagai bidang, sejak tokoh penjahat, tokoh masyarakat, tokoh penegak hukum, hingga tokoh ulama.

Namun ketokohan juga memiliki kenisbian. Seorang tokoh yang reputasinya terjaga dan konsisten akan tetap diakui sampai akhir hayat dan akan jadi legenda. Sebaliknya, meskipun mempunyai reputasi luar biasa seorang tokoh bisa meredup kalau reputasi itu tidak terjaga dan tidak berkembang dengan baik atau mengalami guncangan yang inkonsisten dengan moral lingkungan ketokohannya. Soerang tokoh kritis yang dianggap sebagai penyambung lidah rakyat misalnya, akan ditinggalkan atau digantikan oleh tokoh baru ketika ia kedapatan "berselingkuh" dengan pihak yang ia kritisi.

Banyak contoh lain yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Yang sangat menonjol adalah seorang tokoh ulama muda yang dengan izin Allah sangat sukses membangun citra dan branding dirinya dalam waktu relatif singkat sehingga mempunyai banyak pengagum, terutama kaum wanita. Kejayaan itu runtuh seketika waktu dia akhirnya menjelaskan pada publik tentang poligami yang dijalaninya. Meskipun mungkin tidak ada yang salah dan itu halal, para pengikutnya melihat itu sebagai suatu inkonsistensi terhadap moral yang diusung sang tokoh selama ini.

Hari ini, kita dikejutkan lagi dengan kasus yang terjadi pada seorang tokoh formal dalam penegakkan hukum bidang tindak pidana korupsi. Meskipun kita tetap berprasangka baik dan menerapkan azas presumption of innocent, berita tentang keterlibatannya dalam hal lain di luar bidang profesinya ini mengalahkan kehebohan politik yang biasanya mendominasi media dan langsung menjatuhkan citra tokoh tersebut.

Kedua tokoh ini memang fenomenal. Sang ulama yang sebenarnya sampai sekarang pun kompetensinya masih mengena di hati ini demikian memikat dan menimbulkan empati yang dalam pada jamaah. Pada masa jayanya ia diperlakukan bagaikan seorang wali yang dalam zaman modern ini otomatis masuk ke dunia selebriti.

Sementara sang tokoh hukum, dengan lembaga dan posisinya juga sudah demikian menonjol reputasinya. Oleh mereka yang jadi target lembaganya, ia bagaikan seorang malaikat maut yang siap mencabut nyawa. Bagi para pendukungnya dan pejuang anti-korupsi pula, ia adalah seorang pahlawan penegakan hokum diantara sedikit yang kita punya hari ini. Apa pun, citra kedua tokoh ini sudah terlanjur runtuh yang sekali gus juga memudarkan ketokohannya.

Hilangnya ketokohan secara mendadak ini perlu juga kita lihat secara batin. Seorang teman pernah mengatakan bahwa ketika ketokohan seseorang sudah sampai pada posisi yang membahayakan atau merugikan dirinya atau pengikutnya secara akidah, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain, mestinya tokoh itu berhenti dan kembali ke relnya. Namun jika tidak disadarinya atau malah lupa diri (takabur) maka Allah lah yang akan menghentikan dengan cara-cara yang tak terduga. Karena itu kompetensi dan reputasi kita harus senantiasa berorientasi pada stake holder dan dalam koridor syariat. Ini lah moral tulisan ini yang mudah-mudahan jadi pelajaran bagi kita. Dalam Al-Quran telah disebutkan bahwa Allah akan memberikan kekuasaan kepada yang dikehendakiNya dan mencabut pula kekuasaan itu dari yang tidak dikehendakiNya. Wallahualam.