Dalam masyarakat Melayu sangat lazim penggunanan peribahasa atau pepatah.Peribahasa adalah ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung pengertian tertentu, bidal, atau pepatah (Wikipedia). Insterumen pepatah ini digunakan untuk menyampaikan sesuatu kekurangan atau kelemahan secara tidak langsung agar tidak menjadi perselisihan atau tetap dapat menjaga tali silaturrahim.
Bagi sebagaian orang atau generasi sekarang cara ini mungkin dianggap kurang efisien atau bertele-tele namun kalau kita kembalikan ke martabat kemanusiaan, pendekatan social-budaya ini tentu masih sangat relevan.Ia akan dapat menghindarkan gesekan atau menekan eskalasi tensi antara para pihak yang berbeda pandangan tentang suatu hal.Cara-cara yang langsung dan lugas (straight forward) bisa jadi efektif namun akan menjadi bahan bakar pada pihak lain yang merasa dirugikan atau yang terpojok. Selain bahwa pepatah itu suatu instrumen pergaulan dalam peradaban, kunci lain adalah pemahaman awal (biasanya mentradisi) terhadap maksud dari masing-masing pepatah sehingga ketika kita mendengarnya sudah otomatis tahu konteks dan kemana arah percakapan orang yang menyampaikannya.
Ada dua pepatah yang dapat dijadikan contoh pada era pemilihan langsung hari ini.Pertama, “Buruk muka, cermin dibelah”; maksudnya seseorang yang ketika bercermin melihat mukanya yang buruk atau tidak sesuai keinginannya lantas karena marah memecahkan cermin itu.Maknanya adalah orang yang tidak mau mengakui kekurangan diri sendiri tapi lebih cenderung mempermasalahkan dan menyalahkan orang lain.Terlepas dari kekurangan orang lain itu, secara akal-budi dan kemanusiaan yang bermartabat seyogyanya kita lebih melihat kekurangan dan kelemahan diri sendiri agar bisa melakukan koreksi terlebih dahulu.Akan jadi kontroversi jika kelemahan kita lebih besar dari kelemahan orang lain yang kita kritisi.
Pepatah kedua adalah: “Hidung tak mancung, pipi disorong-sorongkan.”Maksud pepatah ini adalah seseorang yang ternyata hidungnya tidak mancung sebagai salah satu lambang kegagahan atau kecantikan tapi mencoba menggantikannya dengan pipi yang fungsinya tentu berbeda.Agak sejalan dengan yang pertama, pepatah ini menggambarkan orang yang memaksakan kehendak agar diterima sebagai menantu, dalam jabatan tertentu, atau pemimpin sementara orang tahu ada kekurangannya sehingga tidak dipilih.
Sebenarnya ada banyak lagi peribahasa atau pepatah yang senada dengan keduanya, seperti: ”Kaki yang pincang, dikatakan lantai berjungkat” dan ” Tak lalu dandang di air, di gurun ditanjakkan juga” (dandang = perahu, pen).Sebaliknya, yang tidak akan kita kaji pada kesempatan ini, juga terdapat beberapa pepatah yang mengajarkan kearifan, kerendahan hati, dan sikap kesatria dan mau mengintrospeksi diri dalam tradisi Melayu.
Tunjuk ajar Melayu ini tentu lahir dari tradisi kehidupan yang sudah teruji dan disepakati. Karena itu sudah sepatutnya kita simak kearifan yang diusungnya.Mudah-mudahan kita termasuk pada orang yang mau menyimak kaearifan itu.
Sebuah koran ibukota terbitan Jumat 3 Juli 2009 memuat berita tentang tertangkapnya 10 orang joki yang diduga mempunyai jaringan nasional.Jika berita ini dibaca ketika zaman pacuan kuda Pulomas Jakarta atau Bukit Ambacang Bukittinggi masih aktif, orang tentu akan bertanya-tanya: terlibat kasus apakah 10 anak pacuan kuda itu?
Joki memang orang yang profesinya menunggang kuda dalam pacuan.Supaya ringan, biasanya dipilih yang masih anak-anak atau tubuhnya relatif kecil tetapi sangat pintar mengendalikan kuda.Bukan supaya baik jalannya seperti dalam lagu Naik Delman itu tapi supaya kencang dan unggul mencapai garis finish dibanding kuda lainnya.
Joki yang dimaksud dalam berita itu bukan anak pacuan atau si penunggang kuda karena sedang tidak ada kegiatan pacu kuda.Penangkapan itu dalam konteks ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Makassar.Joki adalah seseorang yang ikut ujian itu untuk menuntun orang atau calon lain dengan berbagai cara supaya lulus untuk masuk perguruan tinggi favorit pilihannya yang tingkat peluangnya kecil.
Jadi, calon itu dengan sedikit “maksa” ingin diterima di fakultas pilihannya di suatu perguruan tinggi favorit.Karena kemampuan akademiknya sebenarnya tidak memadai atau karena kurang rasa percaya diri, dia cenderung mencari jalan pintas dengan bantuan seseorang dalam ujian itu.Orang yang biasanya pintar dalam mata-ujian mata-ujian itu lah yang disebut joki yang melakukan itu dengan imbalan.Diantara kedua pihak sudah membuat komitmen sejak awal tentang trik bagaimana mendapatkan tempat yang berdekatan dan cara berinteraksi dalam ruang ujian serta apa imbalannya.
Bukan untuk maksud “mengajarkan” cara kotor ini (“jangan ditiru,” pesan acara-acara demonstratif-akrobatis yang berbahaya), dapat kita duga bahwa trik yang dijalankan sangat beragam yang kadang tidak terbayangkan sebelumnya.Sebagaimana yang dilaporkan koran itu, sang joki memberikan jawaban soal kepada kliennya.Jaringan joki di Makasar ternyata terdiri dari 10 orang (1 orang mahasiswa Unhas dan 9 mahasiswa ITB!!!) dengan 6 orang klien yang dikoordinasikan oleh seorang sarjana kedokteran Unhas.Para pengguna jasa joki itu akan membayar Rp 135 juta jika nanti lulus SNMPTN.
Sementara itu dilaporkan pula di Bandung, ada dua peserta SNMPTN yang melakukan kecurangan dengan alat komunikasi canggih berupa microchip mini seukuran kurang dari koin Rp 100.Panitia juga menyita dua telepon seluler, transmitter, dan kabel yang berwarna seperti kulit manusia.Karena itu panitia SNMPTN lokal Bandung menduga masih ada 13 orang pelaku lain yang terkait ke jaringan organisasi nasional.
Mencermati trik-trik yang dipakai, penggunaan joki ini bisa saja dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab pada berbagai taraf dan jenis pendidikan.Dengan berbagai trik, joki bisa beroperasi pada tes masuk SMU atau masuk jenjang S2 dan S3.Bisa pula terjadi pada tes bahasa seperti TOEFL, seleksi pendidikan penjenjangan karir PNS, atau ujian sertifikasi profesi.Semuanya tentu kembali pada nurani dan moral para joki dan pelakunya.
Terlepas dari masalah moral, seseorang yang “berhasil mengelabui diri sendiri” itu belum tentu akan bisa berhasil dalam proses belajarnya.Sewaktu-waktu bisa muncul dari nuraninya rasa malu atau bersalah telah menempuh jalan serong itu, apalagi jika dia menemui hambatan atau kegagalan secara parsial.Jika pun lolos dari jerat hukum dan berhasil lulus, mungkin dengan nilai yang pas-pasan, rasa bersalah atau tidak percaya diri yang baru akan muncul lagi ketika menghadapi realita kehidupan di lapangan yang sering tidak mudah.Sebenarnya, antara atribut yang didapat dengan cara yang berbau off-side atau semu dan harkat kemanusiaan, manakah yang lebih berharga bagi para pelaku ini?
Manusia adalah ciptaan terbaik di muka bumi.Secara fisik ia memiliki tubuh yang paling lengkap dan sempurna.Yang lebih istimewa dari manusia adalah karena ia berakal-budi.
Berakal maksudnya manusia itu bisa berfikir, memahami, berinisiatif, menilai, berkarya, dan membedakan.Artinya manusia itu merdeka atau punya kebebasan untuk memilih mana yang baik dan buruk, antara yang putih dan hitam, serta antara yang bermanfaat dan sia-sia.Namun selain mengacu pada akal, gerak langkah manusia dikawal pula oleh rasa yang menurunkan budi.Budi adalah kesepakatan-kesepakatan tentang pilihan manusia akan sesuatu berdasarkan suatu keyakinan, misalnya norma hukum, sosial atau agama.
Pilihan-pilihan manusia sebagai makhluk sosial atau berkelompok, tidak bisa hanya berdasarkan saringan akal atau karena keinginan tapi harus pula mengacu pada budi tadi.Makin jauh dari budi maka makin kurang berharga secara sosial; makin dekat dan mengikuti nilai-nilai budi maka manusia itu akan makin dihargai oleh kelompoknya.Disini lah manusia berbeda dengan makhluk lainnya; manusia memiliki martabat atau marwah.
Karena itu meskipun merdeka, pilihan atau tindakan manusia harus berdasarkan pada suatu keinginan yang etis dan komit pada budi tadi. Dalam bahasa agama disebutkan bahwa nawaitu atau niatnya haruslah ikhlas dalam rangka mengabdi pada dan merelasikan diri dengan Sang Khalik, sesuai dengan misi penciptaan manusia.Selain niat, pilihan itu selain akan bermanfaat buat diri sendiri tentu juga buat orang lain sehingga akan menaikkan martabat si manusia.Yang terbaik secara falsafi adalah bila Suatu tindakan atau kebijakan membawa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang (the greatest good for the the greatest number).
Hari ini kita melihat banyak tingkah orang yang berada di luar koridor itu, kalau tidak mau menyebut sebagai orang banyak tingkah.Terlepas dari niat yang memang sulit kita ketahui, banyak orang yang dengan tanpa sungkan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan marwah dirinya sendiri.Pekerjaan atau keberhasilan orang lain bisa diakui sebagai karyanya, pekerjaan ramai-ramai dikatakan sebagai hasil kerjanya sendiri.Ada pula yang mau menghalalkan segala cara demi keberhasilan lahiriah meskipun orang tetap tahu bahwa itu hanya tingkah akrobatis atau artifisial semata.
Dalam konteks hari-hari ini, orang bahkan bukan hanya tak peduli pada marwah dirinya tapi malah meruntuhkan marwah kemanusiaan itu.Marwah manusia yang melekat ke akal-budi tadi, dengan mudah dikikis dengan pamrih atau berbagai kepentingan sesaat yang bermuatan politis, popularitas, atau dagang. Banyak tokoh tanpa sungkan membagi-bagi sembako atau paket bantuan kepada orang-orang tak mampu untuk menarik simpati dan suara pemilih, meskipun sebelumnya tidak pernah peduli pada kesusahan orang lain.Dengan maksud yang sama, ada pula orang yang tanpa beban menghamburkan janji-janji yang tidak rasional dan tidak realistis, padahal meskipun sebelumnya mampu tapi dia tidak berbuat banyak sebagaimana janjinya itu.Tidak kurang pula orang yang tanpa malu-malu mengkritisi kekurangan suatu sistem yang dia sendiri ada dan punya peran dalam sistem itu.
Hal ini terjadi karena kita kurang berpegang kuat pada akal budi yang sudah dikaruniakan pada manusia. Kita terkesima pada gemerincing mata uang, silau dengan gemerlapnya harta benda, dan menyembah kekuasaan.
Tanpa perlu tahu niatnya pun kita bisa melihat banyak orang menghamba pada hal-hal yang temporer dan artifisial sehingga tampak hampa dan tak bermarwah.Mestinya segala gerak langkah kita dimulai dengat niat yang baik dan bersifat hakiki atau substansial yang bersumber dari akal-budi tadi.Akal-budi juga kita gunakan untuk mendapatkan kesuksesan dalam hal apapun secara lebih bermarwah.Di tengah derasnya arus materialistik-hedonistik-sekularistik yang mengglobal hari ini, mampukah kita merefleksikan akal-budi yang menjunjung marwah kemanusiaan itu pada diri kita masing-masing?
Tokoh adalah wujud dari kompetensi dan pengakuan. Seorang tokoh adalah seseorang yang kompeten dan menonjol dalam pencapaian hasil dalam suatu bidang yang diakui oleh orang-orang di dalamnya atau yang mengenal itu dengan baik.Karena itu, seorang tokoh sangat berpengaruh dan akan didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, atau dalam bahasa awam dituakan dalam kelompoknya.
Meskipun belum tentu tua secara umur, sang tokoh akan lebih dihormati dan jadi panutan ketika capaiannya lebih menonjol sehingga makin dikelilingi oleh para pengagum dan pengikutnya.Pada keadaan itu, pengaruh dan popularitasnya merambat ke luar lingkungan gerak langkahnya hingga tanpa peduli bidangnya jadilah ia sebuah lambang atau representasi dari kelompoknya.Tidak heran jika kita mendengar keberadaan tokoh dari berbagai bidang, sejak tokoh penjahat, tokoh masyarakat, tokoh penegak hukum, hingga tokoh ulama.
Namun ketokohan juga memiliki kenisbian.Seorang tokoh yang reputasinya terjaga dan konsisten akan tetap diakui sampai akhir hayat dan akan jadi legenda.Sebaliknya, meskipun mempunyai reputasi luar biasa seorang tokoh bisa meredup kalau reputasi itu tidak terjaga dan tidak berkembang dengan baik atau mengalami guncangan yang inkonsisten dengan moral lingkungan ketokohannya.Soerang tokoh kritis yang dianggap sebagai penyambung lidah rakyat misalnya, akan ditinggalkan atau digantikan oleh tokoh baru ketika ia kedapatan "berselingkuh" dengan pihak yang ia kritisi.
Banyak contoh lain yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.Yang sangat menonjol adalah seorang tokoh ulama muda yang dengan izin Allah sangat sukses membangun citra dan branding dirinya dalam waktu relatif singkat sehingga mempunyai banyak pengagum, terutama kaum wanita.Kejayaan itu runtuh seketika waktu dia akhirnya menjelaskan pada publik tentang poligami yang dijalaninya.Meskipun mungkin tidak ada yang salah dan itu halal, para pengikutnya melihat itu sebagai suatu inkonsistensi terhadap moral yang diusung sang tokoh selama ini.
Hari ini, kita dikejutkan lagi dengan kasus yang terjadi pada seorang tokoh formal dalam penegakkan hukum bidang tindak pidana korupsi.Meskipun kita tetap berprasangka baik dan menerapkan azas presumption of innocent, berita tentang keterlibatannya dalam hal lain di luar bidang profesinya ini mengalahkan kehebohan politik yang biasanya mendominasi media dan langsung menjatuhkan citra tokoh tersebut.
Kedua tokoh ini memang fenomenal.Sang ulama yang sebenarnya sampai sekarang pun kompetensinya masih mengena di hati ini demikian memikat dan menimbulkan empati yang dalam pada jamaah.Pada masa jayanya ia diperlakukan bagaikan seorang wali yang dalam zaman modern ini otomatis masuk ke dunia selebriti.
Sementara sang tokoh hukum, dengan lembaga dan posisinya juga sudah demikian menonjol reputasinya.Oleh mereka yang jadi target lembaganya, ia bagaikan seorang malaikat maut yang siap mencabut nyawa.Bagi para pendukungnya dan pejuang anti-korupsi pula, ia adalah seorang pahlawan penegakan hokum diantara sedikit yang kita punya hari ini.Apa pun, citra kedua tokoh ini sudah terlanjur runtuh yang sekali gus juga memudarkan ketokohannya.
Hilangnya ketokohan secara mendadak ini perlu juga kita lihat secara batin.Seorang teman pernah mengatakan bahwa ketika ketokohan seseorang sudah sampai pada posisi yang membahayakan atau merugikan dirinya atau pengikutnya secara akidah, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain, mestinya tokoh itu berhenti dan kembali ke relnya.Namun jika tidak disadarinya atau malah lupa diri (takabur) maka Allah lah yang akan menghentikan dengan cara-cara yang tak terduga.Karena itu kompetensi dan reputasi kita harus senantiasa berorientasi pada stake holder dan dalam koridor syariat.Ini lah moral tulisan ini yang mudah-mudahan jadi pelajaran bagi kita.Dalam Al-Quran telah disebutkan bahwa Allah akan memberikan kekuasaan kepada yang dikehendakiNya dan mencabut pula kekuasaan itu dari yang tidak dikehendakiNya.Wallahualam.
Golput atau Golongan Putih mulai popular pada zaman Orde Baru, ketika peserta Pemilu terdiri dari dua partai dan satu golongan.Ketika itu, secara dominan Soeharto mengendalikan berbagai aspek kekuasaan sehingga mengebiri hak-hak politik rakyat.Hampir semua komponen bangsa digiring ke Golongan Karya dengan berbagai cara; sisanya dianggap sebagai anti Orde Baru dan bisa dipelintir menjadi anti pembangunan bangsa.
Dalam situasi itu muncul pemikiran banyak orang yang sebenarnya sangat mencintai bangsa ini yang tidak mau menerima opresi politik demikian.Mereka tidak dapat menerima konsep monoloyalitas yang arahkan ke Golongan Karya tapi juga sulit menerima kenyataan bahwa dua partai yang ada, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia, juga tidak dapat diandalkan.Karena tidak ada pilihan itu lah maka keluar pilihan baru ala plesetan yaitu Golongan Putih atau Golput, yang maksudnya tidak mau memilih partai mana pun.
Hari ini, partai politik demikian banyak termasuk Partai Golkar yang tentunya juga sudah mengalami metamorfosa reformasi.Dari sekian banyak partai, rasanya tidak mungkin jika tidak ada satu pun yang platform, ideologi, dan perjuangannya yang tidak cocok untuk dipilih.Demikian pula calegnya, terlepas dari partai dan nomor urutnya, masih bisa kita dapatkan yang baik dari yang ada.Karena itu, sangat rugi jika kita tidak menggunakan hak pilih tanggal 9 April.
Kenapa rugi?Pertama, kalau pikiran kita lurus dan benar, maka tentu kita juga pendukung dan pencinta kebenaran.Kata orang bijak, tidak akan tegak kebenaran tanpa didukung oleh kekuatan atau kekuasaan.Banyak contoh bagaimana kepentingan orang salah diuntungkan karena kekuasaan, sebaliknya tidak kurang banyak pula contoh bahwa kepentingan orang yang benar dirugikan karena dia lemah.
Kedua, salah satu unsur pokok yang menentukan baik buruknya masyarakat adalah pemimpin.Pemilu adalah kesempatan kita berpartisipasi untuk ikut menentukan para pemimpin di negeri ini.Jika kita tidak ikut memilih maka akan memperbesar peluang orang-orang yang tidak sesuai dengan kriteria kita yang akan terpilih jadi pemimpin karena didukung oleh orang-orang yang punya kepentingan sejalan dengan calon itu.
Ketiga, jika kita tidak ikut memilih maka dapat dikatakan kita tidak akan mendapat pengalaman berharga apapun.Apapun hasil akhir Pemilu, tidak akan ada rasa bahagia di kemudian hari bahwa kita telah berbuat sesuatu.Bisa jadi timbul rasa menyesal karena kita tidak berbuat apapun meskipun itu kecil sekali dari skala kegiatannya tapi sebenarnya sangat besar artinya secara emosional.Akan cukup sulit menjelaskan pertanyaan anak-saudara kita: “hare gene masih golput?”
Mari kita manfaatkan momen bersejarah lima tahunan ini dengan baik; kita dating ke TPS dan mencontreng caleg Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi, danDewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten atau Kota domisili kita.Terus bingung mau memilih siapa?
Untuk DPD yang non-partai tentu tidak lah sulit; tinggal mencontreng caleg yang paling baik menurut kita.Lihat track-recordnya, lihat ketauladanannya, kemauannya berkorban untuk orang lain, dan reputasinya dalam masyarakat, dan ukuran-ukuran lain yang patut dalam memilih seorang pemimpin.Seorang anggota DPD nanti tentu akan ikut juga menentukan arah dan langkah perjalanan bangsa kita ke depan.
Bagaimana dengan anggota DPR dan DPRD?Memang ini memerlukan sedikit perhatian dari kita.Jika kita seorang simpatisan atau pendukung suatu partai, tinggal memilih favorit kita dari daftar caleg partai itu.Kalau perlu, buat catatan kecil nomor urut partai dan nomor urut caleg yang akan dipilih dari masing-masing DPR dan DPRD supaya tidak lupa atau salah contreng.Apalagi jika kita tidak peduli dengan partainya tapi sudah menetapkan keinginan kita untuk memilih caleg dari partai yang berlainan, maka catatan tadi akan sangat membantu.
Kalau bingung memilih partai atau calegnya, tinggal kita kembalikan saja ke karakteristik partai atau caleg yang sesuai dengan keinginan kita.Pilihlah partai yang kita cocok, jika tidak ada calegnya yang kenal mungkin lebih baik pilih yang posisi teratas karena pada umumnya caleg nomor urut teratas itu diandalkan oleh partainya atau bisa juga yang perempuan jika kita ingin lebih banyak perempuan di parlemen.
Sedangkan kriteria caleg yang baik tentu dapat ditentukan secara lebih mudah dengan akal sehat saja.Ada juga pandangan yang berasal dari hadits yang intinya demikian:“Jangan pilih yang sangat mau, juga yang tidak mau atau yang tidak mampu.Pilih lah pemimpin yang akan bawa kebenaran.”Yang jelas: RUGI DAN TIDAK ADA GUNANYA MENJADI GOLPUT!!!
Lambat yang sebenarnya bersifat netral, mempunyai makna tentang sifat gerak yang sedikit per satuan waktu. Ketika kata lambat berubah menjadi lamban yang menunjukkan sifat yang sudah melekat pada orang atau sesuatu yang bergerak maka ia berkonotasi negatif karena kita kurang suka pada hal yang kurang produktif atau lambat, apalagi untuk urusan birokrasi.
Birokrasi yang merupakan proses administrasi dan keuangan di kantor-kantor yang dijalankan sekelompok orang dengan berbagai aturan, tentu diharapkan berjalan baik dan tertib. Kata baik berarti tepat, benar, cepat, dan efisien yang dilakukan oleh orang yang kompeten dan kapabel. Tertib menggambarkan kesesuaian dengan aturan, teratur, dan sebagainya. Anehnya, kata birokrasi cenderung berkonotasi negatif karena mempunyai citra sebagai lambat atau suatu proses yang lamban.
Birokrasi yang lamban memang akan berdampak pada kinerja dan citra institusi, baik perusahaan swasta, organisasi, atau kantor pemerintah. Institusi bisa merugi karena kurang efisien dan kehilangan pelanggan atau stake holder. Di perusahaan swasta birokrasi yang lamban akan segera terpantau karena berdampak langsung secara ekonomis; di organisasi mungkin akan lebih banyak merugikan citranya di mata para anggota atau masyarakat yang berhubungan. Bagaimana dengan instansi pemerintah?
Meski dampaknya sama, namun di semua belahan bumi ini, jika dibandingkan dengan instansi pemerintah umumnya kurang peduli pada dampak suatu birokrasi yang lamban. Kelambanan birokrasi dapat kita bedakan dari penyebabnya, yaitu karena:
1. Proses yang tidak simpel atau berbelit-belit 2. Orang yang melakukan pelayanan birokrasi memang etos kerjanya lambat, terlalu hati-hati dan peragu, atau karena tidak kompeten 3. Orangnya memang berniat untuk memperlambat proses dengan berbagai alasan dan tujuan yang tidak baik 4. Kombinasi dari dua atau semua sebab di atas.
Pada era madani saat ini, semua pihak sudah harus mengantisipasi kelambatan pelayanan dan kelambanan gerak institusi. Di lingkungan dunia usaha kita, mengenal adanya good corporate govenrnance sedangkan di pemerintahan ada good governance dan clean government. Seorang pakar manajemen mempopulerkan bahwa kita harus berubah, kalau tidak kita akan mati. Hal ini tentu berlaku untuk segala institusi sehingga kita harus mengancang-ancang terapi yang perlu.
Pertama, sederhanakan proses dan prosedur birokrasi seperti perizinan dan interaksi administrasi dan keuangan. Proses yang rumit dan panjang dapat dipermudah dengan pemahaman yang lebih baik melalui bagan alir, mengangsur rantai proses lebih awal, otomatisasi, komputerisasi, standarisasi, dan langkah-langkah terobosan lain yang mungkin dapat dilihat case by case.
Kedua, perlu peningkatan kualitas SDM yang melakukan pelayanan atau proses birokrasi. Dimulai dengan perubahan menjadi paradigma melayani, kinerja petugas harus ditingkatkan, baik secara manajerial maupun substansial. Untuk itu kita memang perlu memperhatikan kompetensi.
Ketiga, bagaimana pun baiknya system yang sudah kita set maka masih perlu langkah pengawasan dan pengendalian yang efektif. Upaya yang ke tiga ini harus dilakukan berdasarkan standar hasil dan kualitas kerja yang sudah disepakati dan ditetapkan sebelumnya, misalnya jumlah hari atau biaya untuk suatu perizinan. Langkah ini dapat dapat menghindarkan kelambatan dan kelambanan yang disengaja atau pun tidak disengaja yang sangat merugikan citra birokrasi itu.
Dengan demikian, secara keseluruhan kita akan dapat mencapai kinerja birokrasi yang lebih baik, cepat, dan bermarwah.
Coffee Morning tentu beda dengan minum ke kedai kopi pagi-pagi. Kalau yang terakhir, yang lazim disebut minum atau ngopi, populer terutama di kawasan pantai Timur Sumatera.Meskipun coffee morning menggunakan bahasa Barat, namun keduanya mempunyai dua unsur pokok: sarapan yang tentunya juga menyediakan kopi dan pembicaraan atau bincang-bincang.
Suatu kali dulu, isteri saya yang bukan dari Sumatera heran melihat teman-teman kantornya yang setiap pagi suka pergi minum ke kedai kopi.Sampai dia mempunyai persepsi bahwa di rumah kawannya masing-masing tidak terbiasa sarapan pagi atau para lelaki di Pekanbaru memang punya kebiasaan yang dinilai kurang family friendly.Terlepas dari penyebabnya, saya hanya bisa membela bahwa para lelaki itu memang punya sifat kodrati untuk bersosialisasi.Meskipun sudah sarapan di rumah ia tetap ingin ke kedai kopi untuk melepas hasrat kodrati itu.
Kedai kopi hanya sekedar tempat untuk bertemu muka satu sama lain. Selain memang ingin sarapan atau melengkapi yang sudah didapat di rumah, berbagai hal dapat dibincangkan; sejak yang penting dan serius sampai yang remeh-temeh, sejak pemilihan ketua RT sampai pelantikan Obama, dan tak lupa pula menebar dan menangkap peluang bisnis.
Entah mana yang lebih dulu, rasanya lobi kedai kopi yang turun dari tradisi dagang Timur ini sudah ada sejak lama.Makanya kedai kopi lebih populer di negeri-negeri pantai sejak pesisir Cina, Vietnam, Thailand, Malaysia, pantai Timur Sumatera, dan pantai Utara Jawa.Dalam masyarakat modern sekarang, tradisi ini telah diadopsi dan masuk ke pakem bisnis dengan nama coffee morning itu.
Di negara-negara Barat tradisi ini dipakai untuk pertemuan-pertemuan informal dan sebagai pencairan suasana (ice breaker) antara para pihak yang berkepentingan.Untuk keperluan non-bisnis pun sudah lazim hal itu dilakukan karena efektif dan relatif murah karena kecnderungannya dengan cara self service.
Dengan cara ini para peserta mengalihkan sarapannya dari sendiri-sendiri menjadi bersama sambil berkenalan atau bincang-bincang ringan tentang isu-isu strategis yang berkenaan.Coffee morning bahkan sering lebih efektif dari pada rapat yang penuh pengarahan, atau workshop yang diikuti dengan tidak serius yang belum tentu membangkitkan tindak lanjut secara parsial.Apalagi hal bisnis atau investasi, jika cocok tentu interaksi dan tindak lanjut akan terjadi dengan sendirinya setelah pintunya terbuka di coffee morning yang memang domain otoritas atau asosiasi ini.An investor is not blind.
Riau2020 diberi nama karena ini memang menyangkut Ide, Pemikiran, dan Visi penulisnya. Panggil aja saya Bung, Saudara, atau Bang Fei. Seorang yang meskipun dulu punya peluang lain, terlanjur jadi PNS. Konsekuensinya harus mau menjalankannya dengan tetap berusaha dalam koridor idealisme pribadi yang dianggap baik dan benar. Bukan "nyeleneh" tapi mungkin ada yang heran dengan sikap dan jalan yang diambil. Gak apa-apa karena sisi pandang bisa lain-lain; yang penting masing-masing kita bisa bahagia dalam koridor pandangan hidup kita masing-masing. Alhamdulillah, Allah menunjukkan kasih sayangnya secara terus menerus. Profesi dan karir PNS bisa berjalan terus dengan baik sejak 1984. Bersama seorang isteri yang baik dan penuh pengertian, kami punya 3 putra dan 1 putri. Semua anak-anak ikut bawa kebahagiaan. Semoga begitu seterusnya disertai ampunanNya. Demikian pula hendaknya pada anda... Wassalamualaikum.